Showing posts with label gaya hidup. Show all posts
Showing posts with label gaya hidup. Show all posts

Friday, 23 September 2016



Sebagai Perem-puan, puan yang mesti diperem sebelum dihidangkan. Tentu kita memiliki keterbatasan dalam melangkah menjemput jodoh. Ikatan-ikatan disekeliling memaksa kita menjadi seseorang yang menanti, tanpa menjemput dalam artian sebenarnya. Berbeda dengan Tuan, begitulah nasib Puan.

Konon, jodoh dibentuk oleh penantian (utamanya bagi perempuan). Penantian yang bukan sekedar nunggu nanti-nanti, melainkan butuh memupuk kesiapan. Nah, sebagian dari kita tanpa sadar sering bergunjing --yang acapkali kita samarkan sebagai curhatan-- kepada diri sendiri atau bahkan kepada grup rumpi... Tentang jodoh si anu udah datang duluan, kenapa aku belum? Padahal aku juga sudah --merasa-- siap dari segi umur maupun mental (perempuan jarang memikirkan kesiapan materi, baiknya itu lelaki saja yang pikir :p)

Menanti Hujan Selesai © 2016 Peri Tinkersel
Lalu, izinkan saya yang masih lajang ini untuk berdiskusi dengan kalian, para perempuan, untuk menilik kira-kira apa saja yang membuat hidup kita belum ada kamus PERNIKAHAN-nya. Boleh setuju, boleh tidak, atau bisa saja kamu juga punya pemikiran lain? Heum...

Ini mungkin hanyalah hal-hal kecil yang acapkali luput dari "ikhtiar" kita. Maksud saya, dari sekian banyak hal-hal baik yang kita lakukan dalam usaha menanti jodoh, ini jarang diperhatikan;

1.  Manage Keuangan

"Jika kita tidak bisa mengatur hal kecil, bagaimana mungkin mengatur yang besar?" -Sella, 23th, masih muda-

Hah, manage uang apa susahnya? Aku udah usaha kok!
Saya juga merasa begitu. Uwuwuw semenjak bekerja, saya tentu saja mengatur keuangan secara pribadi. Tanpa campur tangan Ibundohara. Mulai dari sandang, pangan hingga papan yah walaupun gak benar-benar tinggal di rumah papan sih. Tapi ternyata tidak mudah, masih kadang hutang sana-sini. Dan uang suka gak keliatan rimbanya. Kadang suka beli stok cemilan buat sebulan padahal jelas-jelas gak mengenyangkan dan nambahin bobot badan *ups*.  Suka laper mata kalau ada diskonan padahal diskon itu diembel-embeli minimal pembelian, yang tadinya gak mau beli apa-apa, jadinya beli apa saja, kan? Bisa dibayangkan, kalau masih begini juga,ketika menikah, kasian suami. Hehehe.

2.  Ngerem Kata
Untuk yang satu ini, emang udah sifat dasarnya perempuan yah hahaha susah sih. Ngerem kata ini gak cuma tentang kata terucap, melainkan juga kata tertulis. Misalnya kalau lagi ada persoalan, tanpa rem kita ungkapkan kebanyak orang. Kalau marah, langsung nyerocos semua yang ada dikepala dan hati dikeluarin. Kadang juga sampai ke media sosial. Itu bahaya banget kalo udah nikah. Semua orang bisa tau isi kamar kita kan? Jadi, seni ngerem kata ini sangat penting untuk dipelajari.

3. Bangun Lebih Pagi dan Produktif
Hayoooo, bangunnya kita udah pagi? Tapi bangun paginya malah dipake buat ngecek hape? Hahaha saya juga masih gitu.
Dicoba deh, bangun pagi, pagi banget sebelum subuh. Mulai dengan hal-hal yang "sebenernya malesin" buat dikerjain. Kayak ngerendem pakaian, nyapu, ngepel beberes dan lainnya. Emang sih, seorang pria menikahi perempuan bukan buat dijadiin pembokat. Tapi, ini melatih kinestetik kita. Anggeplah olahraga, buang kalori cemilan stok sebulan. Hahahaha.

Udah malem, sementara itu dulu. Lain waktu lanjut lagi yah insyaallah.

Salam Saya(ng)


B. Lampung, 23 september 2016

Tuesday, 31 May 2016

source: bisnisukm.com
 Minuman, satu nama yang selalu kita ingat selain nama mantan atau paling tidak (mantan) gebetan lah. Siapapun, tanpa terpaku pada jenis kelamin, latar belakang pendidikan, profesi atau bahkan status kejombloan kedudukan kita di masyarakat pastilah butuh minum.  Bahkan, kini minuman tidak hanya bisa diminum di tempat. You know what I mean lah yah, dia sudah portable, perlu dibawa kemana-mana kayak kenangan. Kebutuhan umum banget untuk dikonsumsi kapanpun kita perlu apalagi ketika sedang tidak berada di rumah. Gak ada galon yang setiap saat bisa dipencet saat kita butuh, kalau memang dia lagi gak kosong. Ya kali kalau pergi mau bawa-bawa galon. Kalau bawa-bawa calon sih kagak apa-apa. *eh*.



Maka dari itu terciptalah minuman kemasan. Minuman kemasan juga sudah tidak asing berjejer pada etales toko ataupun swalayan. Karena sebagian besar dari unsur pembentuk manusia itu yah air, udah itu doang sih intinya. Sebab itu wajar kiranya kita butuh air untuk bertahan hidup dan butuh pasangan untuk menikmati hidup *apasih*.  Tapi, pernah gak kepikiran sama kamu kalau ternyata minuman juga memiliki trend dalam pengemasannya loh. Iya, bukan Cuma cewek doang yang punya fashion trend gitu, tapi kemasan juga. Bahkan Technavio –sebuah lembaga riset tekhnologi independen dunia- melakukan riset dan menganalisis jenis bahan kemasan minuman yang bakal makin ngetrend di tahun 2020. Kira-kira apa aja yah…

1.PLASTIK
Selain praktis dan ringan, bahan plastik itu murah banget modal produksinya. Maka wajar kiranya banyak perusahaan minuman kemasan yang mengemas produknya dengan bahan dasar plastik. Secara global malah diperkirakan akan tumbuh sebesar hampir 4% pada CAGR (Compound Annual Growth Rate/Laju Pertumbuhan Majemuk Tahunan) atau kira-kira melebihi US $ 11 Miliar pada 2020 mendatang. Gak kebayang sih sebanyak apa yah plastik yang bisa dibeli dengan uang segitu, sebanyak rinduku padamu kah? Eeeaaa. Oh yah, gak semua bahan plastik aman untuk dipakai sebagai pengemas minuman. Salah satu yang aman adalah yang terbuat dari PET, plastik yang ringan namun kuat. Ketersedian desain juga beragam dibanding bahan baku yang lain.

2.KACA
Untuk beberapa minuman yang kira-kira bakal disimpan lama, seperti sirup dan susu misalnya. Maka kaca adalah media yang cocok. Cocok, kayak kamu dan dia. Dah aku mah apa. Huhuhu. Aku sama seperti kaca, yang walaupun cocok untuk beberapa orang produk tapi pada dasarnya penggunaan bahan dasar kaca untuk produk minuman adalah solusi yang dianggap usang. Kaca dinilai tidak praktis dalam pendistribusian, penyimpanan maupun pembuangan.  Tapi, sama seperti kita, kaca memang punya kekurangan. Namun coba lah sedikit buka hati guys, kaca itu bisa didaur ulang 100% tanpa perlu khawatir kehilangan kualitas dan kemurniannya. Beda banget sama plastik. Dan ternyata juga, minuman kemasan yang dikemas oleh kaca diperkirakan akan mengalami peningkatan permintaan melebihi US $ 7,6 miliar pada 2020, tumbuh pada CAGR lebih dari 2%. Sepertinya ini didukung oleh meningkatnya permintaan sirup karena mau puasa kali yah .

3.KARTON
Pernah minum sesuatu yang dikemas dalam bahan karton? Pemilihan bahan baku karton untuk beberapa produk minuman tentu saja bukan tanpa alas an. Bukan Cuma untuk terlihat keren, atau modis. Tapi, bahan karton yang dilapisi alumunium foil pada bagian dalam lalu dikemas vakum tentu saja bertujuan untuk mempertahankan kemurnian minuman tersebut. Agar tetap steril. Agar tidak ada pihak ketiga yang mengganggu, virus dan jamur misalnya. Atau teman yang mau nikung kamu misalnya? Halaaah. Dan Technavio memprediksi bahwa CAGR dari minuman berbahan dasar kemasan karton akan mencapai 7% atau sekitar US $ 7,6 miliar pada 2020. Jumlah yang cukup besar, bukan? Tampaknya juga, karton dipilih karena sangat mudah di daur ulang tanpa memberi dampak yang berarti pada kerusakan lingkungan.

4.LOGAM
Dalam prediksi Technavio, CAGR pada kemasan logam/metal adalah yang terendah disbanding dengan bahan baku kemasan yang lain, hanya pada kisaran 2% saja atau mencapai sekitar US $ 4 miliar pada tahun 2020. Biasanya almunium dan baja lah yang digunakan sebagai bahan baku kaleng minuman. Namun diantara keduanya, alumunium lebih disukai karena ringan. Namun diantara keduanya sih aku gak bisa milih, lebih pilih kamu aja. Huhu. Bahan dasar logam juga cukup mudah di daur ulang. Bahkan di Eropa, tingkat daur ulang kemasan logam mencapai 75% dan bisa menghemat energi yang digunakan untuk bahan bakar hingga 90%.

Setiap bahan baku tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Lagipula, beda jenis kandungan minuman tentu saja membutuhkan perlakuan dan bahan kemasan yang berbeda. Entah menggunakan bahan baku apapun, kita semua tentu ingin kemasan yang aman untuk kesehatan kita dan kesehatan mantan *eh*. Oke, stop membicarakan itu. Dan gak ngerti juga sih gimana itungannya untuk bahan dasar logam, kalau 75% pendauran aja bisa menghemat sampai 90% lalu bagaimana jika proses pendauran mencapai 100% yah? Wuah terus gak kepikiran juga, apa di Eropa ada pengepul bahan untuk daur ulang juga yah seperti di Indonesia? Heum mending jangan terlalu musing mikirin itu sih. Kamu mah cukup pikiran aja nasibmu aja, mblo.




Daftar Pustaka:
Artikel asli berjudul “Which Beverage Package Format Will Dominate Through 2020?” oleh Anne Marie Mohan, Senior Editor Packaging World. Digubah dan disesuaikan untuk kebutuhan oleh Sella S. Sembiga Koto, Senior Jomblo Dusbox Bandung.


Bandung, 28 Mei 2016

Tuesday, 12 April 2016

Sudah tiga hari ini, saya ngubek-ngubek Bandung. Gak semuanya sih, cuma kitaran Cibadak-Pajagalan-Kalipah Apo-Pagarsih-Astana Anyar. Gitu-gitu terus sampe pegel. Sebenarnya, lintasan ini sudah familiar (banget) bagi saya. Lah wong kerjaan saya di seputaran (Paper) Packaging. Biasanya juga saya ngider (you know "ngider"? Semacam pusing-pusing) sama Aa atau gak Kak Steve. Itu pakai motor. Pun kalau terpaksa ngangkot, saya pasti bareng Irma. Namun hari ini lain, saya mesti ngider sendirian. Apakah benar-benar sendirian? Bisa ya, bisa tidak. Tergantung saya melihatnya dari sudut mana. Ada banyak orang di jalan raya. Hilir-mudik. Lalu mengapa saya merasa sendiri. Kalau Maudy Ayunda pasti bilang Jakarta Ramai Hatiku Sepi. Kalau Sella sih mengakui bilang Bandung Ramai Hatiku Sepi.



(source: gmaps)

Dari Sarijadi naik Angkot Sarijadi Ciroyom bayar Rp.4.000,00 turun di PVJ. Terus masuk PVJ main-main dulu di taman atas atau nonton di Blitz. Harusnya. Tapi saya malah naik angkot Kalapa-Setrasari terus Turun di Astana Anyar bayar Rp.4.000,00. Saya turun pas di Amanah Printing, sayang, lagi tutup karena Jum'atan. Lalu saya liat Ruko Dodi Pisau --tempat pembuatan pisau pon-- yang berada tepat di sebrangnya. Eh, lagi tutup juga. Yaudah deh saya putar balik lurus terus kemudian belok kanan terus lurus kemudian nyebrang dan belok kiri. Yup, seketika juga saya berada di Jalan Pajagalan. Langsung saja menuju Pajagalan no.1 -- Toko Kertas Sapta Jaya -- yang entah kenapa mengingatkan saya pada seorang teman yang namanya Suhendra Saputra Jaya. Sekarang tinggal di Karawang bersama istrinya yang juga teman sekelompok saat ospek kuliah di UPI. Namanya Ratna Harimurti. Saya di Sapta Jaya nyari Samson yang 200gr. Ternyata adanya Craft Liner 150gr. Yaudah tetep saya beli, mau coba buat sample dulu untuk paper bag kemasan kopi salah satu Cafe Start Up di Jakarta.

Kalau ada yang ngomentarin jelek tentang bangsa non-pribumi kok saya sebel juga yah. Saya asli Indonesia, peranakan Minang-Jawa. Tapi, semua orang non-pribumi yang saya kenal asyik-asyik, misal yang keturunan cina. Kayak Klaus A.Rahman --bingung yah namanya ambigu, hehe-- dia temennya mantan-mantan pacar saya (bener, mantan-mantan). Dia pianis juga violis. Juga sesekali menulis dan beberapa di post ke blog pribadinya. Dan, Bu Enci yang Punya Toko Sapta Jaya juga asyik, saya cuma beli 2 lembar dan ngacak-ngacak (minta liat contoh ini itu) dan kertas yang saya mau ada di rak paling atas, tetep dilayanin dengan cantik. Mohon maaf, berdasarkan pengalaman pribadi saya, justru orang-orang pribumi yang bakal judes kalo dapet customer yang kayak saya. Hihihihih.

Pernah juga, saya tetanggaan sama keturunan china bahkan agamanya bukan islam. Tapi... tiap masak selalu berbagi terus loh. Dianterin pake mangkok gitu. Kan gerbang rumah yang dulu pas saya masih di Sekolah Dasar tuh nyatu sama rumah mereka. Jadi cuma disekat tembok yang gak terlalu tinggi. Nah tuker-tukeran mangkok tuh dari sana. Sehari-hari juga saya dan adik-adik (masih bertiga, belum ada Bayu dan Alse) main sama anak-anaknya Ibu Enci tetangga. Kak Christine, Kak Kevin dan Hans. Ras dan Agama gak membatasi pergaulan bertetangga.

Oh yah balik lagi...
Setelahnya, saya jalan lurus kemudian belok kanan jalan terus belok kiri lurus lagi. Yippi! Saya tau-tau udah balik ke Amanah Printing lagi. Mantau pekerja yang motong dus St.Eves terus cek pisau ke Pak Dodi. Kemudian beli es dawet di deket BCA Astana Anyar. Udah deh pulang ngangkot lagi.

Diangkot saya mikir-mikir. Kalau gak jalan, gak bergaul dengan kata lain; Menutup Diri dari pergaulan dengan orang yang "berbeda" dari kita maka niscaya kita gak akan bisa tau mereka gimana. Kebanyakan prasangka itu gak bener. Kita cuma menduga-duga padahal pernah bergaul juga kagak. Misal yah, kamu bilangin Pak Ahok kasar dan galak. Emang situ pernah bbm-an atau teleponan sama Beliau tiap malem minggu gitu? Lah kalo kagak, kenapa bisa langsung ngejudge? Kamu yang masih rasis. Mungkin kurang ngeksis. Eksistensi itu bukan yang kayak bergaya-potret-cekrek-share gitu yah. Tapi eksistensi itu keberadaan. Jadi, sering-sering lah berada dan bergaul sama semua kalangan dan ras. 

"Kalau pun tidak bersaudara karena iman. Paling tidak, kita bersaudara karena sama-sama manusia." -Tinkersell-

Besok-besok, ikut saya jalan-jalan yang beneran "jalan" yuk!


Bandung, April 2016



*Ayahnya Irma dan Adik Kak Steev baru saja berpulang. Makanya mereka gak bisa nemenin cek barang*

Friday, 8 April 2016

Sebagai tamu di Kota Bandung, The Capital City of Asia-Africa, maka saya mesti selalu manut dengan kebijakan bajik yang ditutur oleh Pak Wali. Tentu saja dalam hal ini yang saya maksud adalah Pak Wali Kota, Ridwan Kamil. Bukan Pak Wali nikah saya, Ayahanda Benny. Satu diantara kebijakan yang mengandung unsur kebajikan itu adalah "Belanja di Warung Tetangga". Namun apa daya, warung tetangga yang jaraknya sekitar sepuluh langkah besar dari kosan saya belum mampu memenuhi segala kebutuhan. Misal, saya butuh toples plastik peranti wadah kerupuk sebagai teman makan eh di warung tetangga gak ada. Pas saya butuh kehadiran kamu peranti teman hidup eh di warung tetangga juga gak ada. Terpaksa deh saya pergi ke Liana (nama sebuah swalayan) yang jaraknya sekitar seratus mapuluh meter dari kosan. Yah minimal, saya masih tetep belanja di tetangga. Swalayan tetangga.

Maka pergilah saya ke Liana Swalayan dengan Tote Bag (Tau kan kebijakan yang ini, kantong plastik berbayar di swalayan?) Di saku jaket sebelah kiri dan dompet kecil berisi uang rupiah "secukup-kiranya" di saku sebelah kanan. Dan kunci, dipergelangan kaki eh tangan. Alasan saya bawa rupiah, karena saya pasti gak akan dilayanin kalau bawa Won apalagi bawa lembaran Daon. Pasti gak laku. Alasan bawa uang "secukup-kiranya" juga karena saya gak mau nurutin setan. Dia suruh saya bawa uang banyak-banyak. Biar boros. Biar jadi temennya. Kan kan kan gak mau.

Start saya memasuki Liana ba'da maghrib. Mungkin lain kali saya mesti periksa mata ke Optik. Soalnya ada yang aneh. Kenapa pusat perbelanjaan selalu nampak bersilau di mata saya? Kalau karena efek lampu, ah tidak juga. Terus, kenapa saya merasakan kesejukan kayak yang lagi ada di surga tapi tidak ada air mengalir di bawahnya. Yang ada, uang dari dompet kita yang mengalir deras ke laci kasir kalau gak di bendung.

Keliling lah saya, terus di suatu rak menemukan aneka masakan dan jajanan pasar. Dan tau sekarang apa yang berkilau di mata saya? SEMUR JENGKOL!!! Yap benar saudara-saudara. Saya eksyaitit banget sama semur jengkol. Dia dan Rendang adalah Dua menu peringkat teratas dalam daftar menu yang "BELUM DIKUASAI NAMUN HARUS KARENA ENAK BANGET". Dia dan rendang padang selalu bikin saya bertekuk lutut dihadapnya dan bikin baper karena merasa cemen juga keder kalau disuruh memasaknya. Dia dan Rendang Padang buatan Ayah adalah yang selalu bikin saya kangen untuk kemudian ingin cepat-cepat balik ke Rumah. Gak masalah sama aroma amoniak yang pasti melekat di kamar mandi. Karena sekarang udah ada Wipoll anti kuman yang bikin kamu serasa berada di hutan cemara.

Semur Jengkol (source: masakanlezat.com)

Tapi...misi saya ke Liana bukan untuk membebaskan Semur Jengkol dari Rak Pajangan untuk kemudian menebusnya di Meja Kasir. Bukan itu. Saya kan niatnya cuma mau beli toples --yang gak tersedia di warung tetangga--. Tapi...tega kah saya melihat Semur Jengkol melambai-lambai gemulai? Padahal saya sudah makan nasi pake ayam kecap buatan Tria. Padahal saya sudah nempel tulisan besar di kamar;

DIE(T) or DIE
Dan siapapun bisa mudah menebak, semur jengkol berpotensi besar menjadi penggagal paripurna program diet saya. Kemudian saya bimbang. Muter-muter Liana walau sudah nemuin toples. Saya galau.

Saya ubek-ubek gadget. Siapa tau dapat pencerahan. Saya tanya sama Tante Google, ayat apa yang bisa menguatkan saya untuk tidak tergoda dengan rintihan semur jengkol nan medok itu.

"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemborosan itu adalah saudara setan." - Al Israa 26-27 -
Oke fix, kalau udah dianggep-anggep sudara setan gini mah saya nyerah. Setan gak dianggep sodara aja seneng berkunjung ke hati saya, apalagi kalo udah jadi sudara? Mungkin dia bakal jadi penghuni tetap dan aktif. Saya ngobrol sama sella yang wajahnya muncul pada layar henpon yang tetot mati karena abis batere.

"Sel, kamu udah makan ketoprak, seperapat kilo manggis, 2 porsi nasi ayam kecap, mie bakso serta kerupuk 2 bungkus hari ini. Dan kamu masih mau ngembat semur jengkol, Sel? Sella yang kamu lakukan ke perut aku itu jahat!"

Kemudia Sella menghilang, saya simpen dia di saku celana training. Teteh yang jaga kasir merhatiin saya. Dikiranya saya kehilangan arah. Saya samperin Teteh kasir. Bukan, bukan untuk marahin dia sambil nunjuk-nunjuk dan teriak kalau saya anaknya Jendral. Saya cuma mau bayar apa yang sudah saya masukkan ke dalam keranjang belanja warna biru. Dan, tidak ada senyuman Semur Jengkol Medok di sana.

Saya, pasti akan membebaskan kamu dan menebusmu. Tapi bukan hari ini. Mungkin besok atau lusa. Bukannya saya tak suka kamu. Bukan juga saya tak mampu meminang kamu. Tau kan, perempuan Minang punya kemampuan untuk Meminang. Bukannya aku tak menginginkan kebersamaan kita. Hanya saja, sekarang bukan waktu yang tepat.

Ingat yah semur jengkol di Liana Swalayan. Kutandai muka kau!

Bandung, April 2016




Belum beli gas dan banyak cucian.

Tuesday, 5 April 2016

Mendengar atau membaca kata poligami,apa yang terbesit dalam pikiran kita?
Kebanyakan orang langsung berpikir tentang seorang lelaki yang memiliki istri lebih dari satu dalam waktu bersamaan. Dan perempuan yang menjadi istri ke-sekian acapkali dipandang sebelah mata dan dianggap perusak hubungan rumah tangga orang.

Abang Ferdi Nuril dalam dua film bertema poligami

Poligami adalah...

Dalam Ilmu Antropologi Sosial dan Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri, Poligami berarti... 
Sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yg bersamaan.
Poligami dibagi menjadi 3:

  • Poligini merupakan sistem perkawinan yang membolehkan seorang pria memiliki beberapa wanita sebagai istrinya dalam waktu yang bersamaan.
  • Poliandri adalah sistem perkawinan yang membolehkan seorang wanita mempunyai suami lebih dari satu orang dalam waktu yang bersamaan.
  • Pernikahan kelompok (bahasa Inggris: group marriage) yaitu kombinasi poligini dan poliandri.


Yang perlu digaris bawahi adalah, poligami tidak hanya berarti untuk pria. Jadi, praktik yang umum terjadi di masyarakat kita adalah praktik poligini. Kalau untuk praktik poliandri mungkin jarang kita temui. Beberapa dari kita pernah membaca kisah Mahabharata dalam kitab ajaran agama Hindu. Dimana Drupadi --putri dari Raja Drupada-- memiliki suami lima orang Pandawa. Nah itulah yang disebut poliandri.

Drupadi dan Lima Pandawa (source: Wikipedia)

Cukup sudah yah pengenalan tentang pengertian Poligami. Sekarang saya mau ajak kamu menjelajah ke alam barzah eh ke alam pemikiran saya maksudnya. Serem juga kalau udah ke sana mah. Hehehe.

Pas masa kuliah dulu, saya dan Yuval juga Kang Acil main-mainan jadi keluarga poligami. Tentu saja Kang Aciel yang jadi suami, bukan Yuval. Walau secara ke-macho-an, Yuval jauh lebih gahar daripada Kang Aciel. Malahan kami membuat ikatan AIWA yang berarti Aciel's Infinity Wifes Association tapi sekarang udah dibubarkan sih. Mungkin, di sanalah titik balik ketegasan saya untuk makin mendukung poligami. Bahkan kalau pun mendapat kesempatan itu, rasanya saya malah senang. Walau orang-orang di sekitar saya kebanyakan menyangsikannya. Cuma, ada satu lagi kalimat dari seorang teman yang bikin saya makin tertohok,

Daripada suami selingkuh, rasa sakit juga dosanya berkali-kali lipat. Mending izinin atau malah bantuin suami buat ngelamar wanita lain (lagi). -Teh Anita-
Kurang lebih begitulah penuturan Beliau. Nah setelah diperhatiin dari serangkaian kalimat diatas yang udah saya ketik, kalau dilihat-lihat seperti dari sudut pandang istri pertama yah? Hehehe. Memang, kebanyakan kita selalu langsung tarik simpul "sakit banget" jadi istri pertama, in other word, istri pertama adalah "korban" dari praktik poligami. Padahal, belum tentu kita udah ngerasain sendiri, kan? 

Di dalam otak saya, kamu bisa lihat-lihat ini. Saya mau coba tunjukkin makna poligami dari sudut pandang istri ke-dua/seterusnya.

Jadi yang kedua itu...

Tidak semudah kelihatannya. Jadi yang kedua artinya kamu mesti lebih "sempurna" dari yang pertama. Mesti lebih cakep, lebih cakap, lebih cerdas, lebih care dan terpenting...lebih shaleha. Kalau tidak bisa "sempurna" dari semua hal, minimal satu lah. Kalau kamu gak punya kelebihan satu pun, lalu bagaimana kamu bisa menjalankan misi sebagai "penyempurna" rumah tangga yang telah terbina sejak sebelum kamu ada?

Jadi yang kedua, artinya kamu mesti meredam ego. Punya kesabaran tingkat maestro dan gak cemen. Betapa, banyak hal yang mesti kamu hadapin, selain dari luar rumah seperti pandangan miring tetangga. Dari dalam rumah pun, kalau-kalau istri pertama masih punya rasa "kesel" ke kamu, kan?

Maka...

Saya gak ngajak kamu buat ikut-ikutan. Cuma ngajak kamu menjelajah sedikit ke alam pemikiran saya. Tiap orang punya pertimbangan sendiri dalam mengambil keputusan --yang pasti diharap-- menjadi keputusan terbaik dalam hidupnya. Lagi pula, selama kamu bisa ngatasin hatimu, maka gak ada yang namanya sakit.
Jadilah madu yang manis, seperti punya lebah. Yang penting qana'ah. - Kang Aciel -
Lagipula, kamu tega/gak tersentuh gitu ngeliat temen kamu yang sudah berusia matang (banget) apalagi kalau orangnya introvert padahal istri-able dan masih juga ngejomblo sedangkan kamu asyik cekakak-cekikik sama suami dan (calon) anak-anak kamu terus share ke sosmed. Dan dia cuma bisa elus-elus dada sambil sesenggukan di atas sejadah kalau malem. Kamu, berani ngelamar temen yang kayak gini buat suami kamu?
Kalau kamu masih jomblo, berani gak nerima lamaran dari istrinya calon suami? Hahaha.

NB: Abang Nuril kok maen film yang poligamian tapi selalu aja meluk istri pertama, tah eta betapa istri kedua mesti syabaaaaar.

Bandung, 5 April 2016



Masih ujan dan gak ada Irma karena pulang ke Garut.

Friday, 1 April 2016

*Rada-rada serius bahasannnya*

Kalau untuk belajar formal saja kita punya banyak waktu luang walau kadang disertai rasa paksa dan malas, mengapa terasa berat belajar ilmu agama padahal ancaman dan hukumnya jelas?

Hari ini saya mendapat teguran itu, penyadaran datang dari kardus milik Kakek, berhubung beliau sedang di Batu Sangkar maka tak pelak saya lah yang mengurusi harta benda beliau (yang 80 persen adalah buku [agama]).

Diantara tumpukan itu ada satu judul yang paling membuat saya terbetik hati; Pedoman Shalat. Sebagai umat muslim turunan (yang agama Islam-nya didapat dari orang tua bukan atas pencarian sendiri) otomatis saya dibekali pengetahuan akan shalat sejak kecil dan buku saya belajar shalat dulu sangat tipis berwarna cover dominan ungu. Ah, lucu, fikir saya pertama kali mendapati buku "Pedoman Shalat" yang tebalnya hampir 600 halaman disusun oleh Prof.Dr.T.M.Hasbi Ash Shiddieqy ini, masa iyah pedoman shalat setebal ini?


buku shalat punya kakeknya sella
© 2016 Peri Tinkersell

Saya tertarik untuk membukanya, saya balik lembar perlembar. Astaghfirullahaladzhim, bukan bermaksud berlebihan tapi isinya benar-benar membuat saya bergetar hebat dan jadi ingin berbagi pada kalian, para sahabat.

Betapa kurang sempurnanya pemahaman saya akan shalat selama ini, asal gerak dan komat-kamit saja. Buku ini membahas begitu detail perihal shalat mulai dari hubungan antara umat Islam dan Shalat hingga hukum meninggalkan shalat, semua terangkum jelas beserta dalil dalam enam ratus halaman walau begitu Sang Penyusun dengan rendah hati berkata; ini hanya rangkuman kecil.

Sepanjang sisa tahun-tahun rasanya perlu bagi saya membaca (sekaligus mempraktekkan tentunya) isi buku ini, kami bisa jadi teman yang baik karena sebaya. Yah ini buku terbitan 1992.

Yuk, belajar terus untuk menyempurnakan shalat.

Karena...

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat adalah perhatian kepada shalatnyaa. Jika shalatnya baik, dia akan beruntung (dalam sebuah riwayat disebutkan: dia akan berhasil). Dan jika shalatnya rusak, dia akan gagal dan merugi.” (HR Ath Thabrani, shahih).

Dan, Shalat adalah perintah yang Allah berikan tanpa perantara Jibril, langsung pada Baginda Rasul melalui peristiwa isra' mi'raj, betapa istimewa.

Dan lagi, menutup aurat itu bukan hanya waktu shalat loh yah, tapi sepanjang yang diharuskan.

Thursday, 31 March 2016

*For my english, pardon me, please*

Today I wake up very early, 01.57 am. Good. For The God shake, I can't sleep again. My tummy has contradiction. No... are you think that I've want to give a birth? Calm guys, I'm not. In other word, I'm not pregnant women. Hehehe. I'm single and in my country, single is some ridiculous things for young people. Haaah sorry, I'm not focus. Sampai mana tadi?

Tahu Jeletot (Indonesian Food Street)
Oh yah, this tummy-ache (Hello, I prefer using "tummy" than other word) because of my self. I enjoying my meal with very spicy tofu in sundaness bahasa it's called TAHU JELETOT. Jeletot it's mean very very hot/spicy. If you come here, you must try! Or, would you like to cook it at your home? Indonesia memang jago mengonsumsi cabe! Hidup cabe! Cabe-cabean hidup! Wuhuhu

Me, Tria and Irma are Queen of Sambal! We love spicy very muaaach.

Eh yah, walau begitu, ada juga loh yang gak suka --atau bahkan gak doyan sama sekali-- cabe/pedas. All mans in our workshop didn't like chilies/spicy. Yesterday, A Galih ate "Rujak Bebek" (Rujak Bebek (read : beubeuk)  is a like traditional west java appetizer food, from many fruits slice with palm sugar+peanut sour sauce and you can add chilies if you want) without chilies but he felt hot with tomatoes warm face :D

http://www.infobdg.com/v2/wp-content/uploads/2014/06/2-dpu46.jpg
Rujak Bebek (sourch: infobdg.com)

Pun begitu dengan Ical dan Kak Steev. Mereka juga gak suka pedas. So, when I and Tria cook meal for them, we must REMEMBER to not use CABAI. Ah, padahal hidup tanpa cabai kan sama aja kayak hidup tanpa cinta.

Padahal, did you know?
Cabai layak dikonsumsi dan disukai bukan hanya karena rasanya yang nikmat dipadu dalam beragam masakan. Cabai pula mengandung beberapa vitamin. Yang dominan sih, vitamin C. Cabai pula dapat meningkatkan metobolisme tubuh dan meningkatkan nafsu makan. Makanya kali yah, di workshop tuh yang perempuannya pada "berisi" sedangkan yang pria pada "kurus" kayak kurang gizi. Hihihi. Peace!
Yah, walau saya harus sakit perut karena cabai. Saya gak masalah. Gak akan berhenti untuk menyukai cabai cuma gara-gara ini. Hanya saja mungkin, mengonsumsi cabai secara berlebihan itu kurang baik.

Jangan mencintai atau membenci sesuatu secara berlebihan. -unknown-

Suka cabai boleh, asal gak berlebihan. Suka ke aku boleh, asal gak berlebihan. Semua yang berlebihan itu gak baik, kan?


Bandung, 31 Maret 2016


Yes, mau gajian!

Wednesday, 30 March 2016

Buah Pir (koleksi Pribadi)
© 2016 Peri Tinkersell

"Sekilonya 30 Mbak, kalau mau satuan 5rb" ujar Ibu penjual buah yang ada di lantai atas.

"8rb dua yah Bu," saya menawar karena berkat pergaulan dengan timbangan sejak masa baru diluncurkan ke bumi lewat dua kaki Ibu Lestari hingga kini memasuki kepala dua maka suatu hal biasa jika saya bisa tauan ajah itu Apel isinya 8 buah per kilogram, cuma dengan melihatnya. Jadi menawar 8rb untuk 2 buah itu sah-sah saja, namanya juga nawar.

Si Ibu pedagang buah lantai atas menggeleng, saya melipir pergi, lima langkah kemudian Beliau memanggil, saya tidak berpaling. 

Di lantai bawah Pastrad Kangkung (yang ternyata juga ada yang jualan bayam, sawi, toge, ikan,ayam , daging bahkan panci...bukan hanya kangkung) ada juga penjual buah yang sekaligus jual kue dan susu kacang, langganan saya. Maka dengan hati berdendang yang bukan dangdut dan langkah yang sedikit terseok-seok saya menuju kios itu, yang di depannya ada pohon tapi gak tau pohon apa.

"Bu susunya dua, ini berapa sekilo?" saya mengambil dua kantong susu kacang (bukan susu yang lain yah) seraya melihat-lihat pada sudut dimana ada buah Pir, di sini gak ada Apel ternyata.

"25rb cantik, boleh nawar," si Ibu pedagang buah lantai bawah malah nawarin saya buat nawar :)
"20rb yah bu," ucap saya sambil senyum.

"Mau berapa kilo?" kata si Ibu.

"Setengah aja," kali ini saya gak hanya senyum, tapi juga senyum-senyum cantik, udah mah nawar dikira beli banyak eh ternyata hihihi...

Buah di timbang dan uang berpindah tangan. Hari ini saya banyak nawar sama pedagang di pastrad, tapi kalau ke kamu mah gak, kamu nawarin apa aja saya akan terima, asal di-ijab kabul-in *etdaaaaah*.

Omong-omong, khasiat Pir gak kalah loh sama Apel, diantara 29 khasiat yang saya temukan (temukan di google,haha) diantaranya baik untuk meregenerasi kulit dan melembabkan bibir,kandungan indeks gliserinnya juga rendah jadi baik untuk menjaga gula darah dan yang terpenting baik untuk kesehatan dan kecantikan. ;;)


ps:
dapat setengah kilo isi 3, yang 1 nya sudah bersemayam dengan tenang di perut sella.
Saya terangkan, tulisan ini untuk kita ambil pelajarannya sama-sama. Sama sekali gak ada niat mengintimidasi spesies makhluk tertentu. Jadi orang yang "tau" diri jelas sangat perlu.
Barang siapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya. -Unknown-
Pagi tadi. Bandung bagian sukasari, lagi dingin-dinginnya. Tapi bagi yang suka-kamu, lagi ingin-inginnya. Hiaaaah baru juga ngetik kok udah gagal fokus yah saya. Hehe. Di sini ada kopi white instant rasa mocca. Sambil dengerin stars on your eyes-nya mocca, saya berselancar ke dunia lain. Yup! Dunia maya. Scroll scroll scroll eh nemu sesuatu yang menarik perhatian saya, dari seorang senior himpunan pas kuliah.
Demi sambel oncom suuk yang di uleg dina coet batu... Cabe-cabean bukanlah termasuk tumbuhan dari genus capsicum... ‪#‎biologi‬ ‪#‎ilmiah‬‪#‎sciencetific‬ ‪#‎cabe‬ ‪#‎askwhy‬
Saya bengong dulu, kok akang ini statusnya multitafsir. Jadi saya komen aja deh. Dari pada cuma tebak-tebak buah manggis kan kagak jelas juntrungannya.

"Loh bukannya cabe-cabean emang capsicum? Kalau bukan, jadi apa dong Kang?"

Lalu diberinya saya penjabaran secara detail.
Cabe-cabean adalah mutasi gen dari cabe yang terkontaminasi oleh pergaulan bebas dan gaya hidup sub-urban sehingga keluar dari genus capsicum dan tidak lagi bersama family soloneae. Kingdom cabe-cabean terindikasi perpaduan antara plantae dan animalia yang termutasi karena bedak made in china yang melebihi ambang batas ketebalan foundation.. Sehingga diidentifikasikan ke dalam kingdom baru yaitu mutanisae..._-Kang Mukhlis-
Masya Allah pagi-pagi udah ngakak deh. Hahaha. Jadi inget yah pas saya bahas tentang cabe habanero a.k.a gendot/gandol. Sempet juga saya ketik kalau cabe-cabean adalah jenis cabe yang paling fenomenal. Dan percepatan penyebarluasan spesiesnya ngebut banget. Didukung oleh kemudahan --yang makin kini makin mudah-- untuk memiliki kendaraan roda dua bermesin dengan cara kredit. Pake down payment maratus rebu juga udah bisa punya motor. Makin pesat aja deh pertumbuhan spesies ini. Kita bisa temui di jalan-jalan alteri, sekolah-sekolah, tempat kongkow sampai kuburan. Dari dunia nyata, maya hingga astral tuh sudah diselipi oleh mereka. Dedek-dedek gemes --meminjam istilah dari om diva press-- sepertinya merasa menjadi cabe-cabean adalah trend kekinian yang mesti dijunjung melebihi Pancasila. Naik motor bertigaan tanpa helm serta kelengkapan syurat-syurat juga sah ajah biar tetep cuantik tanpa merusak model rambut yang udah dicatok lima jam sebelum mejeng. Ini sih yang pernah saya temuin. Duh boro-boro inget ngidupin lampu sen pas mau belok, lah inget bapak engap-engapan bayar cicilan aja kagak.

Ciri-ciri yang paling umum untuk mengenali spesies ini adalah:

1. 3B (BB, Behel dan Belah tengah).
2. Bonceng unlimited, selama jok masih muat.
3. Pakaian ketat kebuka kemana-mana.
4. Pacaran gak tau tempat.
5. Tiap jalan lima langkah cekrek-cekrek-updates-share.


Dedek-dedek gemes

Mestinya kita lebih sadar dan kenal tentang diri kita yah. Biar kita bisa ngertiin tentang sekitar. bergaya boleh tapi jangan sampai bikin eneg sekitar.

Sebenernya gini, dedek-dedek ini mungkin bukannya sengaja berperilaku seperti itu. Mungkin, mungkin loh yah. Bagi mereka tampaknya itu hanyalah hal biasa yang tak perlu kita --orang dewasa-- persoalkan apalagi sampai dibesar-besarkan. Tapi Dek, yuk ikut kelas kepribadian yuk. Mau?


Bandung, 30 Maret 2016



Lagi jemur kasur, semoga gak ujan.