Showing posts with label Tips. Show all posts
Showing posts with label Tips. Show all posts

Friday, 23 September 2016



Sebagai Perem-puan, puan yang mesti diperem sebelum dihidangkan. Tentu kita memiliki keterbatasan dalam melangkah menjemput jodoh. Ikatan-ikatan disekeliling memaksa kita menjadi seseorang yang menanti, tanpa menjemput dalam artian sebenarnya. Berbeda dengan Tuan, begitulah nasib Puan.

Konon, jodoh dibentuk oleh penantian (utamanya bagi perempuan). Penantian yang bukan sekedar nunggu nanti-nanti, melainkan butuh memupuk kesiapan. Nah, sebagian dari kita tanpa sadar sering bergunjing --yang acapkali kita samarkan sebagai curhatan-- kepada diri sendiri atau bahkan kepada grup rumpi... Tentang jodoh si anu udah datang duluan, kenapa aku belum? Padahal aku juga sudah --merasa-- siap dari segi umur maupun mental (perempuan jarang memikirkan kesiapan materi, baiknya itu lelaki saja yang pikir :p)

Menanti Hujan Selesai © 2016 Peri Tinkersel
Lalu, izinkan saya yang masih lajang ini untuk berdiskusi dengan kalian, para perempuan, untuk menilik kira-kira apa saja yang membuat hidup kita belum ada kamus PERNIKAHAN-nya. Boleh setuju, boleh tidak, atau bisa saja kamu juga punya pemikiran lain? Heum...

Ini mungkin hanyalah hal-hal kecil yang acapkali luput dari "ikhtiar" kita. Maksud saya, dari sekian banyak hal-hal baik yang kita lakukan dalam usaha menanti jodoh, ini jarang diperhatikan;

1.  Manage Keuangan

"Jika kita tidak bisa mengatur hal kecil, bagaimana mungkin mengatur yang besar?" -Sella, 23th, masih muda-

Hah, manage uang apa susahnya? Aku udah usaha kok!
Saya juga merasa begitu. Uwuwuw semenjak bekerja, saya tentu saja mengatur keuangan secara pribadi. Tanpa campur tangan Ibundohara. Mulai dari sandang, pangan hingga papan yah walaupun gak benar-benar tinggal di rumah papan sih. Tapi ternyata tidak mudah, masih kadang hutang sana-sini. Dan uang suka gak keliatan rimbanya. Kadang suka beli stok cemilan buat sebulan padahal jelas-jelas gak mengenyangkan dan nambahin bobot badan *ups*.  Suka laper mata kalau ada diskonan padahal diskon itu diembel-embeli minimal pembelian, yang tadinya gak mau beli apa-apa, jadinya beli apa saja, kan? Bisa dibayangkan, kalau masih begini juga,ketika menikah, kasian suami. Hehehe.

2.  Ngerem Kata
Untuk yang satu ini, emang udah sifat dasarnya perempuan yah hahaha susah sih. Ngerem kata ini gak cuma tentang kata terucap, melainkan juga kata tertulis. Misalnya kalau lagi ada persoalan, tanpa rem kita ungkapkan kebanyak orang. Kalau marah, langsung nyerocos semua yang ada dikepala dan hati dikeluarin. Kadang juga sampai ke media sosial. Itu bahaya banget kalo udah nikah. Semua orang bisa tau isi kamar kita kan? Jadi, seni ngerem kata ini sangat penting untuk dipelajari.

3. Bangun Lebih Pagi dan Produktif
Hayoooo, bangunnya kita udah pagi? Tapi bangun paginya malah dipake buat ngecek hape? Hahaha saya juga masih gitu.
Dicoba deh, bangun pagi, pagi banget sebelum subuh. Mulai dengan hal-hal yang "sebenernya malesin" buat dikerjain. Kayak ngerendem pakaian, nyapu, ngepel beberes dan lainnya. Emang sih, seorang pria menikahi perempuan bukan buat dijadiin pembokat. Tapi, ini melatih kinestetik kita. Anggeplah olahraga, buang kalori cemilan stok sebulan. Hahahaha.

Udah malem, sementara itu dulu. Lain waktu lanjut lagi yah insyaallah.

Salam Saya(ng)


B. Lampung, 23 september 2016

Monday, 22 August 2016



Untuk masyarakat urban kekinian mungkin jarang sekali makan ikan asin atau bahkan jangan-jangan ada yang belum pernah makan ikan asin yah???  Heum.
 
Ikan asin adalah ikan yang diasinin. Yaiyalah. Tujuannya untuk memperpanjang usia fungsional ikan. Karena ikan segar yang ditangkap Bapak nelayan gak bisa bertahan lama,  kecuali di-freezer-in. Nah yang jadi soal,  gak semua masyarakat Indonesia punya kulkas. Ini adalah salah satu alasan kenapa ada ikan yang diasinin. Dan ada manusia yang diasingin kayak Gloria. *tululut mulai ngaco*.

Oke, langsung aja yah. Ikan asin itu enak, salah satu dari sekian banyak jenis ikan asin itu ada yang direbus. Nah yang direbus ini sangat cocok untuk ditumis basah pakai irisan cabe ijo. Dimakan sama nasi anget-anget. Kalau mertua nanya yah pura-pura gak inget. Hihihi.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memasak,  utamanya ikan asin rebus ini. Yaitu,  ingat selalu untuk mencuci semua bahan,  termasuk ikan asin dan cabe. Biar gak sakit perut. Dan jangan tambahin garem. JANGAN. Yah kalau mau coba sih silakan aja. Hehehe.

BAHAN-BAHAN:
  • - Ikan Asin Rebus 500gr
  • - Tempe 1 papan kecil
  • - Cabai Hijau 10 buah
  • - Tomat Hijau Besar 1 buah
  • - Bawang Putih 3 siung
  • - Bawang Merah 4 siung
  • - Jahe 1 ruas jari jempol
  • - Serai 1 batang
  • - Daun Salam 2 lembar
  • - Gula pasir 1
  • - Minyak goreng secukupnya
  • - Air Panas secukupnya
CARA-CARA :
  • - Iris bawang-bawang dan cabai. Geprek serai dan jahe.
  • - Tumis bawang dan jahe. Setelah harum tambahkan serai,  cabai dan daun salam. Tumis terus sampai cabai layu.
  • - Masukkan ikan asin rebus yang telah dicuci dan tempe yang sudah dipotong balok. Aduk. Tambahkan air panas.
  • - Tutup wajan dengan beberapa menit. Tambahkan gula pasir. Cicipi.
  • - Angkat dan sajikan hangat.

Friday, 24 June 2016

Siapapun, pasti gak mau sendirian. Karena sendirian memang gak enak. Gak percaya? Coba tanya sama mayat di dalam kubur. Serius. Atau tanya sama Teh Anita yang 25 tahun masih jomblo *eh* hahahaha. Maka wajar kiranya yah seorang yang sudah berumah tangga itu inginnya hubungan adem-ayem. Tapi kenapa yah dalam banyak kasus yang saya tangani (Lah memangnya siapa lu, Sel. Hahaha) justru para suami yang pada "takut" ditinggalkan istri alias diceraikan. Tapi, pas masih pacaran tuh malah cowok yang gampang banget ninggalin cewek. Hihihi. Ini kan fenomena yang cukup membuat kening berkerut.

Sorry, this post is pure my opinion. Ditarik simpul dari berbagai kisah yang saya alami. Cuma merasa perlu saja untuk membagikannya. Mari berdoa semoga pria-pria kita tidak begitu. Fufufu.

Wellcome to my mind...
Pada Jum'at pagi yang tidak mendung tapi cukup nyaman untuk jadi teman jalan. Teh Anita bilang lagi butuh di-semangat-in untuk nyelesaiin BAB 4 juga BAB 5 SKRIPSInya. Harus ngebut karena jadwal sidang tanggal 29 bulan ini. Biasanya, saya kalo nyemangatin orang tuh lewat teks atau paling banter yah lewat voicenote. Bacain ayat yang berhubungan atau nyanyiin lagu. Tapi kali ini lain, merasa perlu ajalah buat ngedatengin Teh Anita yang lagi mojok di Masjid Daarut Tauhid. Karena Axcel dan Qiqi ada kerjaan, jadi saya jalan kaki dari Cijerokaso. Semoga turun 5kg. Yes.

Sesampainya di sana...

Teh Anita kok gak kaget yah. Padahal saya gak bilang-bilang mau ke sana.

"Kan tadi nanya lagi dimana? Hahaha." - Teh Anita -

Bener juga. Hihih.

Setelah ngobrol sana-sini ngebahas kejadian kemarin. Sampailah pada satu celetukan...

"Kenapa yah cowok kalau udah nikah tuh "takut" sama istrinya. Takut dicerai. Padahal kalau pas pacaran asa gampang banget buat pisah?" - Teh Anita, 25th, available buat diperistri -

"Tau gak teh, kenapa cing?"

"Mungkin karena udah ngerasa punya tanggung jawab yah..."
 
"Tidak sepenuhnya,"

"Jadi?"

Triiiiiing, Peri Perkakas meliputi diri saya dan menyelatankan pendapatnya (karena utara sangat mainstream, sampe 3000 episode, eh itu mah uttaran ketang)...

photo source penulispro.com
Ketika sebuah pasangan memutuskan untuk menikah. Siapa yang paling "dibebankan" baik dalam hal keberanian maupun finansial? PRIA. Lalu setelah menikah, apalagi kalau punya anak. Kemudian pasangan tadi bercerai. Maka setelah cerai pun, pria tidak bisa melepas tanggung jawab nafkah begitu saja. Terutama demi pertumbuhan dan perkembangan si buah hati. Dan gak mungkin juga dia ngasih nafkah sesukanya pasti ada standar etika dan rasa gak enak. Tah, udah mah ngebiayain diri sendiri, ngebiayain anak sendiri wah ditambah lagi ngebiayain anak orang alias ibunya anak sendiri. Udah itu gak diurus sama ibunya anak pula, kan udah cerai. Hihihi. Apalagi jika pria tersebut menikah lagi, berapa rumah tangga yang harus ia nafkahi? Dan mungkin ada beberapa alasan lagi. Tapi ketika baru pacaran, justru mereka merasa dibebaskan ketika cewek mutusin. Paling gak, bakal berenti jadi supir/ojeg pribadi. Bakal utuh uang simpenannya karena gak nraktir makan dan belanja atau juga pulsa. Dan merasa gak rugi karena sempet icip-icip. Anggaplah begitu. Satir. Kesimpulannya, bukan cuma soal rasa tanggung jawab namun pria memang naluri dasarnya itu GAK MAU RIBET.

Jadi kita makhfum kenapa pria memilih untuk main belakang ketika dia agak jenuh dalam berumah tangga. Dan menghindari seoptimal mungkin untuk tidak diketahui oleh pasangan resminya. Begitulah.

Lalu, apakah kedatangan saya buat nyemangatin Teh Anita sudah sesuai niatnya? Bisa dibilang ya, bisa juga tidak. Yah paling tidak sekarang mah BAB 4-nya udah beres. Hahahahaha.

Yah soal pria-pria ini.... Waallahualam yah. Cuma pendapat(an) saya. Peace untuk pria-pria yang memang pure bertanggung jawab. Bukan cuma karena gak mau ribet. Salam saya(ng).


Bandung, 26 Juni 2016


Lupa, belum nyuci piring.

Perempuan (Copyright © 2016 Peri Tinkersell)

Diera (not diare) digital seperti ini, segala sesuatu mudah sekali terjadi. Termasuk kejahatan. Lebih spesifiknya, kejahatan yang bahkan tidak dirasa sebagai kejahatan oleh yang terlibat. Baik pelaku, maupun korban. Apa iyah? Mungkin kamu perlu contohnya.

Dua hari belakangan ini, saya dikirimi pesan yang isinya kurang pantas. Sebagai orang dewasa, kita harus sepakat tentang apa yang saya maksud kurang atau sebenarnya bahkan tidak pantas. Lebih kurang pantas lagi karena pengirimnya itu sahabat dari teman dekat saya. Dan dia berstatus sebagai seorang suami dari seorang wanita yang sedang mengandung lima bulan. Dan lebih kurang pantasnya lagi, dia tidak bertampang --yang bisa dibilang agak-- brutal. Dia juga bekerja di sebuah institusi swasta yang notabene lingkungannya adalah "ikhwan" (you know what I mean when I used ikhwan to descreb). Kalau yang melakukan itu adalah Axcel atau Qiqi (junior saya di workshop) itu masih bisa "diwajarkanlah", toh mereka baru lulus SMK dan otaknya memang masih khas anak muda. Sengklek. Hehehe.

Erlin dan saya, pada awalnya sangat yakin itu benar dia. Kemudian saya putuskan untuk bilang ke Mr.A yang adalah temannya Mr.B (yang mengirim pesan tidak pantas). Mr.A tidak percaya.

"Piye to...itu bener Mr.B? Asa kurang yakin. Mana nomernya? Blokir aja. Beres."

Begitulah tanggapan pertama Mr.A. Kemudian saya kirim nomer LINE-nya. Dan Dia bilang itu nomer udah lama gak aktif. Dan sekarang sedang musim penipuan identitas. Mungkin itu salah satunya.

Entah mengapa, karena Mr.A ini adalah AC bagi saya, jadi saya yang tadinya yakin ikut ragu juga. Tapi saya gak kehabisan akal. Saya giring Si pengirim pesan untuk SMS ke nomer saya menggunakan nomer dia yang lain (yang saya sinyalir nomer itu sering digunakan saat kontak dengan Mr.A) dan saya minta dia buat nge-message saya di FB menggunakan akun yang kemarinnya baru saja dimention oleh Mr.A.

And gueess what that working? I say Yah.

Saya screenshot dan kirim ke Mr.A melalui WHAT'SAPP. Coba tebak apa tanggapannya? Nothing. Pesan saya cuma di read. Belajar dari persoalan saya dengan Qiqi sebelumnya, saya memutuskan tidak mengirimi pesan apapun ke Mr.A. Mungkin sebagai pria, dia punya pertimbangan lain.

Selain pada Erlin (ofcourse I always tell her everything 'cause she's my roommate) saya juga cerita ke Teh Anita. Yah kan selain lebih dewasa (tampaknya) Teh Anita juga roommate saya, tahun lalu. Biasalah cewek, butuh temen curcol. Ditengah kesibukan skripsinya yang baru sampai BAB 4, Teh Anita masih sempet-sempetnya denger dan baca cerita saya. Dia juga bilang untuk nge-blokir saja. Tapi Teh Anita percaya kalau yang kirim pesan memang Mr.B.

Masih belum puas, saya buka FB. Cari akun istrinya Mr.B. KETEMU. Saya inbox dan minta nomer wa/line dia yang bisa dihubungi. Pas saya buka fb lagi, eh ternyata fb saya udah di blokir. Saya yakin itu Mr.B pelakunya, tapi Allah memang bijak. Sebelum akun saya diblokir, Sang istri udah sempet kirimin nomernya. Saya save.

"Kalau mau ngalahin Raja, serang saja Pion-nya." - Benny Bakhty Aras, Pria nomer satu di hidup saya -

Siapapun bisa tebak. Kalau memang Mr.B pelakunya, pastilah dia kebakaran jenggot. Dan benar, sebelum buka puasa kemarin, dia kirim lagi pesan ke saya. Isinya beda banget dari dua hari belakangan. Pada pesan terbaru, dia bilang.... 

"...Yang kemaren cuma bercanda karena udah lama gak ngechat jadi pengen iseng aja seharian lagian sekarang udah tobat. Gak sebodoh itu juga lah, istri lagi hamil. Ramadhan pula."

What the....
Saya gak peduli dia beneran bercanda atau cuma mau nutupin rasa malunya karena udah bahas tentang hal yang malu-maluin ke saya. Yang jelas, itu adalah kejahatan. Bercanda hal yang gak pantas (kalau memang itu bener bercanda). Saya yakin, banyak dari kalian, utamanya perempuan, yang sebenarnya telah jadi korban --katakanlah-- pelecehan (walaupun "cuma" secara verbal) tapi tidak sadar. Seperti yang disarankan oleh Mr.A dan Teh Anita, memblokir akun mereka memang cukup membantu, paling tidak kita gak akan nerima pesan darinya lagi. Tapi, bagaimana jika dia menggunakan akun lain dan media lain? Maka perlu dicatat, memblokir saja tidak cukup. Jujur deh, emang kalau udah ngeblokir akunnya lalu kalian bisa tidur dengan tenang? TIDAK. Lalu, apakah dengan memblokir akunnya maka dia akan sadar kalau itu salah? TIDAK. Bahkan kita membuka kemungkinan lain untuk dia melakukan tindakan itu kepada orang yang lain (dalam kasus saya, perempuan). Kita harus memberinya pelajaran. Menghentikannya, kalau bisa. Atau bahkan melaporkannya ke Pihak yang Berwajib jika memang dirasa sangat perlu. Sepertinya ini sepele, tapi tahukah kamu bahwa kalimat "Gimana, udah buka segel?" Adalah kalimat yang sangat tidak senonoh. Sama seperti soal Pramugari yang diomongin mau susu kanan atau kiri. Dan bahkan Hal "kecil" kayak gini bisa dijerat undang-undang...

Gak percaya? Misalnya,

1. Pasal 315 KUHP (Tentang penghinaan dengan sengaja yang bukan termasuk pencemaran nama baik).
2. Pasal 311 KUHP (Tentang perbuatan tidak menyenangkan).
3. UU ITE (Karena melalui media sosial).

Nah, mulai sekarang, jangan mau lagi jadi korban yang gak sadar. Walaupun kamu anggap agak berlebihan kalau sampai lapor polisi, tapi paling tidaknya buatlah dia jera dengan caramu. Misal, katakan kau akan bilang istrinya. Apakah itu mengancam? Heum tidak juga, itu hanya untuk pembelaan diri. Selalu simpan chat yang seperti itu, yang mengindikasikan suatu kejahatan. Mungkin bikin kamu gatel, tapi jangan hapus. Pokoknya itu adalah dokumentasi. Suatu waktu pasti diperluin. Yakin deh.

Oke, karena ini udah agak siang maka saya perlu mandi. Satu hal yang harus digaris bawahi dari tulisan singkat ini, jangan mau jadi korban yang gak merasa korban. Apalagi korban perasaan. Fiyuh.


Bandung, 25 Juni 2016



Sudah agak lega. Sudah baikan ama Dek Qiqi.

Tuesday, 10 May 2016

COPYRIGHT © 2016 PERI TINKERSELL


Bahan:

500 gram ikan tongkol
4 sendok makan minyak goreng
1 sendok makan air asam
Bumbu Halus:
6 butir bawang merah
2 siung bawang putih
5 buah cabai merah keriting
2 buah cabai merah besar, buang bijinya
1/2 buah tomat
1 sendok teh ketumbar
4 butir kemiri
3 cm jahe
3 cm kunyit
1 sendok teh terasi
1 sendok teh garam
1 lembar daun salam
1 batang serai, memarkan

Cara membuat Sambal Matah Ikan Cakalang (Tongkol):

Bersihkan ikan tongkol, ambil dagingnya. Sisihkan. Panaskan minyak, tumis bumbu halus, daun salam, dan serai sampai harum dan matang.
Beri air asam dan masukkan ikan tongkol. Masak sampai matang. Angkat dan suwir-suwir ikan tongkol. Sisihkan.
Campurkan sambal matah bersama suwiran ikan tongkol berbumbu. Sajikan dengan ditaburi bawang merah goreng.

Wednesday, 30 March 2016

Buah Pir (koleksi Pribadi)
© 2016 Peri Tinkersell

"Sekilonya 30 Mbak, kalau mau satuan 5rb" ujar Ibu penjual buah yang ada di lantai atas.

"8rb dua yah Bu," saya menawar karena berkat pergaulan dengan timbangan sejak masa baru diluncurkan ke bumi lewat dua kaki Ibu Lestari hingga kini memasuki kepala dua maka suatu hal biasa jika saya bisa tauan ajah itu Apel isinya 8 buah per kilogram, cuma dengan melihatnya. Jadi menawar 8rb untuk 2 buah itu sah-sah saja, namanya juga nawar.

Si Ibu pedagang buah lantai atas menggeleng, saya melipir pergi, lima langkah kemudian Beliau memanggil, saya tidak berpaling. 

Di lantai bawah Pastrad Kangkung (yang ternyata juga ada yang jualan bayam, sawi, toge, ikan,ayam , daging bahkan panci...bukan hanya kangkung) ada juga penjual buah yang sekaligus jual kue dan susu kacang, langganan saya. Maka dengan hati berdendang yang bukan dangdut dan langkah yang sedikit terseok-seok saya menuju kios itu, yang di depannya ada pohon tapi gak tau pohon apa.

"Bu susunya dua, ini berapa sekilo?" saya mengambil dua kantong susu kacang (bukan susu yang lain yah) seraya melihat-lihat pada sudut dimana ada buah Pir, di sini gak ada Apel ternyata.

"25rb cantik, boleh nawar," si Ibu pedagang buah lantai bawah malah nawarin saya buat nawar :)
"20rb yah bu," ucap saya sambil senyum.

"Mau berapa kilo?" kata si Ibu.

"Setengah aja," kali ini saya gak hanya senyum, tapi juga senyum-senyum cantik, udah mah nawar dikira beli banyak eh ternyata hihihi...

Buah di timbang dan uang berpindah tangan. Hari ini saya banyak nawar sama pedagang di pastrad, tapi kalau ke kamu mah gak, kamu nawarin apa aja saya akan terima, asal di-ijab kabul-in *etdaaaaah*.

Omong-omong, khasiat Pir gak kalah loh sama Apel, diantara 29 khasiat yang saya temukan (temukan di google,haha) diantaranya baik untuk meregenerasi kulit dan melembabkan bibir,kandungan indeks gliserinnya juga rendah jadi baik untuk menjaga gula darah dan yang terpenting baik untuk kesehatan dan kecantikan. ;;)


ps:
dapat setengah kilo isi 3, yang 1 nya sudah bersemayam dengan tenang di perut sella.

Tuesday, 29 March 2016

Selain kacang, saya juga hobi sama yang namanya pisang. Mungkin karena sama-sama ber-ang. Eh tapi kacang memang rasanya gurih tapi kok kalau dikacangin rasanya perih yah? *eeeeaaaa*
Pas itu kebetulan banget banyak pisang menumpuk di kostan tapi gak kebagian giliran jadwal untuk dimakan. Alhasil diolah-alih jadi makanan yang lebih menggugah selera dari bentuknya, gak cuma panjang tok gitu tapi dibikin lebih manis pakai cetakan mawar yang saya beli di enci fanny mamanya celine seharga 8 ribu rupiah ajah perlusinnya.




Pudding Miss-U bye Sella
 © 2016 Peri Tinkersell

Bahan-bahan
- 2 buah Pisang Ambon (sangat matang)
- 1 bungkus agar-agar bubuk
- 2 gelas air
- 50 gr gula pasir
- 1 scht susu kental manis
- 1 lembar keju cheddar slice
- 10 gr mentega kuning
.
Cara Membuat:
- Panaskan air, masukkan bubuk agar-agar yang tela dicampur dengan gula pasir (agar tidak menggumpal). Sambil terus diaduk.
-Di wadah terpisah, lumatkan pisang. Tambahkan susu dan keju serta mentega. Aduk rata.
- Setelah hampir mendidih, tuangkan 3/4 cairan agar-agar ke dalam mangkuk berisi pisang.
- Aduk rata.
- Tuang ke cetakan. Tunggu 3 menit.
- Tuang sisa air agar-agar ke dalam cetakan di atas adonan pisang.
- Diamkan hingga mengeras.
.
Untuk 14 porsi.

Monday, 28 March 2016

Keluarga besar kami penggemar berat jajanan pasar, apalagi gorengan. Memang sih katanya kalau kebanyakan makan gorengan itu gak baik. Tapi, aku tuh kurang baik apa coba sampai kamu masih tetap mau cari istri kedua? *halaaaah* Salah satu dari sekian banyak gorengan favorit adalah pastel. Renyah di luar dan lembut kenyal-kenyal bihun di dalem itu memang bikin gemes. Kamu mau coba buat juga?


Pastel bye Sella
 © 2016 Peri Tinkersell

Recipe: Ibu Fatmah Bahalwan (Favorite Banget di NCC)
Recook bye: Tinkersell

*Isian sedikit dimodifikasi*

Bahan kulit:

300 gr tepung terigu serbaguna
100 gr margarine
1 btr telur
75 ml air
1 sdt kaldu bubuk

Bahan Isi:

200gr bihun, rendam, tiriskan
2 sdm wortel, parut kasar
1 btg daun bawang, iris halus
2 bh bawang putih, cincang
1 sdt garam
1 sdt gula pasir
¼ sdt lada halus
1 sdt kaldu bubuk
1 sdm kecap ikan

Cara membuatnya:

1. Siapkan 500ml minyak goreng dalam wajan. Sisihkan.
2. Kulit: aduk semua bahan menjadi satu, uleni hingga kalis. Potong timbang 25gr, bulatkan. Tata diatas loyang, tutup rapat. Istirahatkan 30 menit.
3. Isi: Tuangi bihun dengan kecap ikan, aduk hingga rata, sisihkan.
Tumis bawang putih hingga harum, masukkan wortel aduk rata, masukkan bihun kecap dan daun bawang, aduk.
Taburi garam, gula pasir, lada halus dan kaldu bubuk, aduk rata dan matang. Angkat.
4. Penyelesaian:
Ambil 1 bulatan bahan kulit, gilas tipis dengan rolling pin.
Beri 1 sdm bahan isi
lipat, tekan-tekan bagian pinggir sambungannya agar rapat kuat. Pulir bentuk pastel. Lakukan pada semua bulatan. (Kalau saya pakai cetakan pastel)
Panaskan minyak, goreng pastel hingga kuning kecoklatan. Angkat. Sajikan bersama Saos Sambal atau apapun yang di suka. Sajikan bersama pasangan halal lebih berkah :):):)
"Kalau jajannya 1jt berarti minimal penghasilan 2jt." -Status Klaus, katanya kata Neneknya-

Saya lagi asyik-asyiknya denger Ssst-nya Sore yang judulnya ngingetin saya sama Hivi! dengan Sst-nya. Oh yah, katanya yang mau gantiin Kak Dalila "Dea" itu Ifi Blink yah? Mending Winzy aja kan sama-sama suaranya melengking dan rambutnya keriting. Lucu dan khas banget. Dalam artian baik loh. Oh yah balik ke cerita pagi ini. Saya cuci muka aja belum dan sengaja gorden, jendela serta pintu kamar kagak di buka. Biar gak ada yang ngetok-ngetok entah apa pun urusannya. Terlalu pagi kan. Eh ternyata pukul 07.28 ada yang ketuk. Ternyata teteh samping kiri kamar.

"Teh, aku mau minta tolong. Si Adek (anaknya) mau berangkat sekolah. Mesti beli mainan dulu kalau gak pasti gak mau berangkat. Selalu gitu."

Saya gak tau tadi ekspresi muka saya gimana. Semoga gak buruk-buruk amat atau paling gak, gak bikin tersinggunglah. Kan siapa yang gak bingung coba, pagi-pagi didatengin tetangga yang mau pinjem uang karena anaknya gak mau sekolah kalau kagak beli mainan (anaknya usia TK). Dan tau, teteh itu cuma mau pinjem SEPULUH RIBU doang! Kan saya malah makin shock.

Di sini saya petik buah buat sarapan, yang semoga berguna untuk kemashlatan rumah tangga kita kelak, Bang Ghani;

1. Selalu Punya Uang Lebih
- Ini penting. Cukup penting. Punya uang lebih di dompet. Jangan cuma disimpen di Bank yah Bang. Apalagi kalau malah gak punya simpenan sama sekali. Itu bahaya. Walau katanya uang bukan segalanya tapi kita kan hidup di jaman yang alat pertukaran ekonominya pakai "nilai".

2. Jangan Biasain Manjain Anak
- Anak teteh tetangga gak mungkin begitu (ngambek kalau kagak dibeliin mainan sampe mogok sekolah) kalau bukan karena dibiasain. Kalau mau apa-apa mesti diturutin. Padahal mainan yang dibeli tiap hari yah itu-itu aja. Gak baik tabiat manja yang kayak gini kita pelihara.

3. Fokus Urus Anak Semenjak Dini
- Berdasarkan pengetahuan saya --langsung dari sumbernya, teteh kosan-- memang gak seratus persen ngurus anaknya. Dari usia 3 bulan udah dititipin ke adiknya (yang masih gadis) sedangkan teteh bekerja. Jadi gak turut andil besar dalam pembentukan karakter anak. Kan kayak gini juga kurang cukup bijak yah Bang.

4. Jangan Ngutang Ke Tetangga Pagi-pagi Pas Tanggal Tua
- Saya tau, tolong menolong dan gotong royong adalah ciri khas masyarakat Indoesia. Termasuk pang pinjem-pinjeman uang. Tapi mesti liat sikon juga. Jangan pagi-pagi, apalagi tanggal tua. Da minjemnya juga bukan buat hal yang urgent banget sampe perut terancam. Kan kagak enak juga.

5. Jangan Nikah Apalagi Punya Anak Kalau Belum "Sanggup"
- Nah, kalau yang ini gak usah diperjelas luas yah. Kita semua bisa nyimpulin. Sesuai kesanggupan diri.
Yaudah deh, saya mau mandi sekarang untuk kemudian berangkat ke workshop. Udah cukup kenyang pagi ini. Banyak banget buah pelajaran dari tetangga.


Bye.

Bandung, 28 Maret 2016

Sunday, 27 March 2016

"Jika tidak menyibukkan diri dengan hal baik, niscaya akan sibuk dengan hal buruk." - Quote dalam kenangan -

Layaknya bisnis start-up, benar-benar masih merangkak. Orderan juga sekitar 5-10/minggu. Itu pun, kebanyakan diselesaikan di pabrik. Jadi, sudah barang tentu hal-hal yang mesti dikerjakan tangan tidak begitu banyak pula. Jadi, sudah barang tentu juga saya gak banyak berkegiatan di workshop. Padahal, saya punya masalah besar kalau diam. Iya, saya mengidap KTT alias Kerajinan Tangan Tersier. Semacam kayak yang gak bisa tenang gitu kalau tangan gak melakukan sesuatu *halaaaah*

Jadi, apa yang bi(a)sa Sella lakukan jika bosan di Workshop? 

Ada banyak hal sebenarnya yang bisa saya lakukan tapi beberapa diantaranya adalah ini. Mungkin, kamu juga mau coba?

1. Membaca Buku
Yah...membaca!
Kelihatan membosankan yah? hehehe. Sebenarnya gak juga, kamu bisa membawa buku favoritmu ke tempat kerja. Seperti yang biasa saya lakukan. Oh yah, kebanyakan orang sih sudah melupakan cara ini, in other word membaca buku fisik sudah kelihatan ketinggalan jaman banget yah di era digital tapi beda loh rasanya membaca dari gadget dibanding dari buku. Cobain deh, lagian kalau membaca melalui buku fisik tuh kamu keliatan yang kayak rajin hahaha kalau baca lewat gadget mah dikirain lagi stalkingin mantan loh :p

Buku Favorit: Canadian Short Stories
© 2016 Peri Tinkersell

2. Merajut 
Beberapa orang beranggapan kalau merajut itu hobi yang "tua"sekali. Tapi jangan salah, selain bisa bikin kamu gak bosen, merajut juga melatih kesabaran. Mengajarkan kamu bahwa semua hal butuh proses untuk mendapatkan hasil *eeeeaaaa*. Lagian, gak ada salahnya kan memulai merajut benang sebelum merajut rumah tangga? *eh*

Alat Merajut (Koleksi Pribadi Sella)
© 2016 Peri Tinkersell

3. Menggambar
 Nah yang ini juga, bener-bener bisa ngilangin rasa kantuk dan bosan menurut saya. Haha menurut saya loh yah kalau gak nurut juga gak apa-apa. Kan kalau gambarnya bagus lumayan tuh buat dipajang di dinding kamar. Lebih enak diliat walaupun gambarnya gak bagus-bagus amat, dibandingin liat photo mantan sama pasangannya yang sekarang kan? *curcol*

Harvest on Windy Days (gambar pribadi Sella)
© 2016 Peri Tinkersell



Heum, kira-kira ngelakuin hal apa lagi yah buat ngilangin rasa bosen pas gak ada kerjaan di tempat kerja?
Apa?
Ngobrol ama temen kerja yang berpotensi jadi gebetan?
Ish, bisa juga! hahah.

Bandung, maret 2016

Wednesday, 16 March 2016


 data:image/jpeg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBxITEhITDxMQDxIVFRIXFRUYFRAVFRURFRgXFxUVFRUYHSggGBolGxcVITEhJSktLi4uFx8zODMtNygtLysBCgoKDg0OGxAQGy4lICUtLy0tLS0tLS0rLS0uLi0tLSstLS0tLS0tLS0tLS0rLy0tLSstLS0tKy0tKy0tLS0tLf/AABEIASMArQMBIgACEQEDEQH/xAAcAAEAAQUBAQAAAAAAAAAAAAAABAIDBQYHAQj/xAA9EAACAQICBwUFBQgCAwAAAAAAAQIDEQQhBQYSMUFRYQcTInGBYpGhscEyQnLR8BQjM1KCksLhQ7IVU/H/xAAaAQEAAgMBAAAAAAAAAAAAAAAAAwUBAgQG/8QAKxEAAgEDAwMCBgMBAAAAAAAAAAECAwQREiExBRNBIlFhcYGx4fAykaEj/9oADAMBAAIRAxEAPwDuIAAAAAAMfprTVDC0+8xNRU47lfe3yS4mhrtiw3eqPcVO6ba29uDls7lJU18r/kaOpFPDZnDOmAjaOx9OvThVoTVSnNXjJcV5PNNbmnmiSbmAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAADWNftXP23D7MIQlVT8LdlaL35vcrqPXI1+h2P4RUXGdWu67jnVTioqXs02mtm/B59To4NXBN5ZnLOBai6xVNE6RrYLGzSoubhPfsxn/wAdeKe6LVr9JK/2TvpyLtu1RTS0jRjLbjaNfZ4xtswm+l7RfRxfBmY7F9alisJ3E5uVahuvvdC9o257P2fJR5msfS9IfudFABIYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAALWJw8akJU6kVOE4yjKL3SjJWafRpnzlp3CVdAaWp1KV5UJNzp52U6UnadOb4ySun/AEyPpI1PtK1SjpHBypqyr07zoS5VEvsv2Zbvc+BhrINlwGMhWp06tJ7VOpGM4vnGSui+cZ7D9apRctH4rag9qToqVls1Fd1aNsrZ3klzUuaR2YReUAADIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAOF9s+gJ4XFU8fhLwdSSm3FfZxVLxJ/1pXtzhLmdZ1N1hhj8HRxNOyc42nHPwVVlOOfXdzTT4nmumgljcHWw7ttSjem+VWOcM+F3k+jZyHsL008PjKuBq3iqybipZOOIp3bjbrG9+sUjTiQO9AA3AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAPn7th0HPCaQjisNeDqNV6co2WzXptd58XGX9bPoE0vtc0Qq+j6k/v0GqsX7P2ai8thyfnFGlRbZBsGrGmY4zC0MTDJVIJtfyzWU4+kk16GUOS9hul9nv8FNvjXpX/AJW1GpHpZ7Lt7TOtGYyysgAA2AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAIGnqSnhsRBraUqNVNc04NWJ5YxrXd1L7tiV/KzDB89agaQ/Z9JYaf3ZT7qXlW8Cd+CUmn6H0YfM89HJL7T2kkvDe+2mmrdfzO/6p6ehjMPCrDKVlGpHjCql4lblxT4po5reW2DGTMgA6TIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAIOmdKQw1PvKkak1eKtCO1K8nvty6hvAJxi9Z8UqeFrybs+7lGP45+GPxaNCq6/1MPiK03LvsLOdoQrRq0akHv/AHaUHeNuDXBO6zMHrJ2iftbhCMFToxu2m3nLdtbWWSXTi+luedeOl45JHSnjgh6wU1GnDZS2nduzztG1rrzL3ZhpaVDHQpt+CvenKN7eJXdOXnteFfiZgsdpOnPPbW0r5WduKXl/vjvIlfHxTTg7Sve6TupLirNvfzscEZSjPURKlUT4PpsHBaHanj4RhT2qUtl/bnC85dJ2ecd+5KXW5u2p3aDVxuKjSlR7ulsSTlCFScXWSur1N0I2UrX+qLKNaMiR05JZZ0QFE6kVvaXm0jyFeDyjKMn0aZKaYLgAAAAAAAAAAAAAAAbLeIrxhGU5tRjFXb6HP9OaeqYhuMbwpcI8Wuc+fluIK1eNJb8nVa2k68sLj3Nr0hrPhqWW13suULS98t3xMDiNepf8dGK6yk38El8zVKqsWJlXO/qt7bF/S6RQivVuZHWHWCri6UqNaNHu5b0qd81uacm2muDVmaitC01ugn7/AKmWbPYsglVlP+TO2FpTprEYoxMdAQf3Io9/8BTvmkZpSKJS3mup+5nsx8oxa1dw+9xk/W3yJuHoU6a2YLYjyTe/nnxL2IpNbyFUNnUkaq3h4JFVcY5/Mi/tTTunZlMZvgU11tK6ya3r6mrergyoqOzNn0Fr3XpNRqvv4cpfaS6T3++50zRGlaWIpqdF3XFP7UXyaPn/AGjYtTdPyw1ZNtuDymucfzW9f7Oy1upRembyisvunwlFzprD+52wFNOaaTi7ppNPmnuZUXB5wAAAAAAAEHTeL7qhVmnZqL2fxPKPxaMSaim2bQi5SUV5NT1u0v3k+6g/3dN5+1U/JbvO/Q1xyz6nm1ZFmUuv/wA4/roedrVXUlqZ7K3oRpQUI+C7CDlu+PArxGEls32JK298OnkZDQlG7hfc5P0ezdNrdnb57zLYrDNO2Sv4XxT455b0uJNChmOTnrXnbqaTSakClQZlsThLSfBJ2vZte8j1qNs87Xt8vzRzuDR2xrKSIMrroXsVSsovfdHlVZ57voWsRXukuQRs8vAq1bxS5GPqyLlSoW6SvJefX6B77Dgj1JyW73HlOq7rgTMThmpK9s7cnk/mRXTatye7d+rm6TRE8DF4db1uKI2urEyn4k1y+qMY42lbqS6fJCpZ2Z27UTFupg6d83Byh6LNfBpehsJpHZbWvSrR5SjL+5Nf4m7lxReYI8tcx01ZL4gAEpAAAADV9fcTalTpr787vyh/tr3G0Gl9oE/HQjyU373FL5M5rt4oyO7p0VK5jn5/0jUqz+H0LU8nz3X5Xtn9T3b4/q5ZjVzTPPs9dEzeiKmy7t7N3m07Z5e7OxsyruStG21ZWd1a/rnyu8zRsPXszNYDFtNWaas1b2eO719x3W9RYwVV9auT1F/SVK0m3k04yXN7r3suFn7zC16j+y0rW+XBPkrsz2JrN55Xe/i0unuzNfxSVss8o53vw58dz9BWWODazbaxIx1WRFnIu1SPI5S0LcmX8BC81y4+RZUcydRhs7Te62XHPLn6/pmYLcjqPYo0lUjtKySytbyvutuysRsTUWyrZ/7KK8888sn8SGS5IdJkMLnu4kPEwtPPIm4SO4j6UVmiVcED/kb72WVf3laPOEX/AGyt/kdGOW9mc7YnzpzX/V/Q6kWVs/8AmefvliswADoOMAAAGi9oP8Wk/Yfwkb0aV2jU/wCBLj+8Xp4Wct4s0Wd/THi5j9fsafWREZLg7prkRKsfqUconq4PDwwpE3DYizXR39fMgMrizWLcWSSSaM1LF3WduK4bs87c2QMRWy9EvRZJEbv3zLNSZK5uRDGko8FuTKEjyTLmGlbN5mqJJbIlYXDXavl+rfryPcbUUVaLSa4p8eO4rni4pc7X/XmYrF17k2Ukc+HJ7kWtK7KacbtI8uSsHT4msdzM3hEuhHcRcbJbV3wJryVzFYm7kkT+Dk5eTeOzWnevflTk/e0vqdPTND7OsPswqVHxcYLyWb+cfcbvTmWdusU0efvJaqzLwPEz0nOUAAAGo9oa8FH8U/kjbjSu0SedBdKj/wCpzXbxRf75O7pyzcx/fDNMouzKa8c2e01mXK0SjTyj1c1iWSDJnm0e4iOZbTNcEiexW2Wqkg2UPPcZMlLYUi22UtmEzVntSoRpzK5MtmVuasqijKUIWRjIvMy0H4Togc9VissrEaMPFdkuOaJWr+C7zEU4v7O1tS/DFbVvW1vUmjHLSOOc9Cbfg6Bq/hu6oUotWezeX4pZv529DNUpkK5cpyLdLCwealJybbMnCRcIlKZIizJgrAAAOf8AaFVffwjwVNP1cpX+SOgGhdpFG1SlPg4OPrF3/wAjkvk3RZY9KaVzHPx+xquH3l2sixg53ZerspVseoqbyImIiQ2ydV4mPkzDN48BssykVSkWWzVs2DkW3ISZZlIwjDK3MpUi05HkZZkiI2SWzI0anhMbIv055WJ4shmsmTpbr9DYtR6V61Sf8tO3rJr6RZrVCXh95umolG1OrP8Ammo/2q/+R126zNFTfSxTZsx6meAsyiJFKZMhMx0WSYTAMgAAAYDXfAd7hZNK8qb215LKXwbfoZ88avk80aTgpxcX5JKVR05qa8HCaVfYlnuuZHEvM91y0HLDVWt9OV3Tfs8n1W73PiRe82oQlzSv5rJ/EoJwcW4vlHsoVI1Epx4Z7UZj6pLlMhVGRsmRaky3Jly1/c37ixJkZk8mWJMuTZZN4o1bKZMqpRCiSqGHfEkRHJnijck06W4u06NipzS6slUTnlU9i63ZHStW8N3eGpJ5Nraf9TuvhY5/oPBOvWpw4N3l0gs5fDL1OpFjaR5kUnUanEPqAAdpVnqLkJFoqTAM0AAAAADFay6HjiqEqbspb4PlNbvR7n5nIcPTcdulNOMoN5Pes7SXo/mdzNJ151du/wBqoRvKP8WK+9HdtLrbf7+Bw3lDUta+vyLTp132325cPj5/k57V3kasyfiafFfpECuVElg9LCeosNlo9kyi5GjdlFRlFNCbLmHhdkiRpJkjDUeJOsoq74FNNFONfhsTJYRyyeXgg1cVKV+C4L8zzDYi+TvctzydjM6saGliKsYrKO+T/lhxfnwRtFuTwjWo4wi5Pg3fUXAbNJ1ZK0qmUekE/q/kjZimlTUYxjFbMYpJLklkiouqcNEUjy1Wp3JuQABuRg9PAAZwAAAAAAAAGla56uwjB1qEdmz/AHkVus39pLhnv8zm+kKdjvc4JpqSTTTTT3NPemcl1w0R3NSUFfZ3w/C93uzXoVd7Qx60XfTLt57cmaZJlpyKq2RZbK1Iv2z1GQwlOyLeEw3GRM8iWKIJy8FdNEfHO7RKo8yw6bnJKKcm3ZJK7bfBI3a2IU98kXDYaU5qMU5NuyS3tvckdc1d0QsNSUctuVnN+1yXRbveQNVNXFh13lVJ1mt29U0+C9rm/Tz2IsrW30eqXJSX953Xojwv9AAOwrQAAAAADOAAAAAAAAAGC1t0P+0UrwV6kLuPtLjH6ry6mdBrOKksM2hNwkpI+ftJ4JpuyMZCi77jtetGqsa16lFJVPvRytPquUvmaDX0dsN7Ss0801Zp9UU9S3cJHo6F/GpH4mGpUnbMqaMtsRtwINSk5SUYJybaSS3tvcka6STuZLKTdoxTbeSSzd+SXM3/AFU1eVCKqVUnWa3f+tPgva5v0872rmr8cPFSnaVZrN8I3+7H8+JnCxoW+n1S5Ke7vNfohx5fv+DwAHWVwAAAAAAAABnAAAAAAAAAAAADm3aBGVKs5W8FRKS6NK0l8E/6jpJitY9CxxVF05eGSzhLlLr0ZBcQc4YjydNpVjTqpy48nFf/ACabtZm46i6Oc5yryXhh4YdZve/RfMowHZrW7y9adONNPfFuUmuiaVvU32hgYUoRp01swirJfV8295yWtGblqmsYLK/u6WjRSeclhnhcnEoLIpDwAAAAAAAAAAAGcAAAAAAAAAAAAAAB4yzUQABDqosM8AB4AAAAAAAAAAAD/9k=

Adalah Indonesia, terbentuk dari kitaran tujuh belas ribu keping potongan surga, katanya. Dihuni oleh ratusan juta manusia bersanding dengan jutaan jenis hewan juga tanaman. Berhubung juga garis khatulistiwa membentang dari ufuk timur hingga barat Indonesia --tidak hanya pada jambul tante Syahrini-- maka, sudah kodrati lah beragam jenis tanaman tropis tumbuh di hati ini eh di bumi ini.

Dari sekian banyak tanaman tropis, adalah cabai a.k.a cabe (enakan nyebut cabe yah? :v) yang tidak pernah lepas dari kehidupan sehari-hari bangsa ini. Mulai dari cabe merah, cabai hijau, cabai rawit, paprika, cabe gendot/gendol dan lainnya. Yang paling fenomenal sih cabe-cabean.
Nah, dari sekian jenis cabe, adakah yang menjadi favorit dan menarik hatimu?

GENDOT adalah yang paling menarik hati saya. Eh, bukan... bukan karena saya gendut -_- kamu mah suka terlalu jujur deh kayak Erlin.
Perpaduan rasa buah dan sayur yang segar, pedasnya yang sangat sensasional (antara 100.000-350.000 skala scoville loh) juga body-nya yang aduhai, bagaimana tidak saya sampai jatuh hati? :')
Cabe ini sebenarnya berasal dari Semenanjung Yucatan, Meksiko. Namun,   pada abad ke-18 para taksonomis mengira cabe ini berasal dari China maka wajar kiranya nama latin dia jadi Capsicum Chinense/Cabai China. Dalam dunia Internasional, Gendot/Gendol disebut Habanero. Berasal dari La Habana --suatu daerah di Kuba-- yang sekarang dikenal dengan Havana, karena dulu di sanalah pusat jual-beli cabe gendot.

Oh yah, pas di Lampung sih saya gak pernah nemu cabe ini. Tapi di Bandung mah banyak banget. Ternyata memang habitat gendot tuh di daerah pegunungan. Di pulau Jawa/Java aja perkebunannya cuma ada di sekitaran Bandung dan Dieng.
Memang sih I'm enthusiast to Gendot tapi kan gak mungkin mau digerogotin langsung. Maka saya mengolahnya jadi beragam masakan. Dan, here's my favorite one... SEMUR GENDOT BERSAYAP. Kamu mau coba? Lets practice on your own kitchen beb...

Bahan-bahan:
- Sayap Ayam 500gr, bersihkan.
- Cabe Gendot 100gr, cuci, belah tengah.
- Bawang merah 5 siung
- Bawang putih 3 siung
- Biji Pala 1 butir
- Ketumbar 2 sdm
- Lada 1 sdt
- Kapulaga 3 buah
- Kayu manis 2 cm
- Air 500 ml
- Garam seselera
- Kecap dan gula merah secukupnya
- Minyak 2 sdm

Cara-cara:
1. Haluskan bm, bp, ketumbar, lada dan biji pala.
2. Tumis bumbu halus, setelah harum masukkan gendot dan sayap ayam.
3. Masukkan air setelah cabe gendot mulai layu lalu masukkan kapulaga dan kayu manis.
4. Setelah air mendidih, tambahkan kecap dan gula merah.
5. Tunggu hingga kuah menyusut dan meresap.
6. Setelah matang, matikan kompor lalu tambahkan garam. Cicipi, kalau udah enak angkat aja terus makan pake nasi.

Catatan...
Sayap yang digunakan sayap ayam yah, jangan sayap malaikat, entar malah jadi malaikat tak bersayap. Ngebelah cabe gendotnya jangan putus sebab kalau putus dia bakal ngejomblo, kayak kamu. Hihhhi. Kali ini serius, masukin garam ketika proses masak udah selesai karena kalau masih panas nanti bakal ada penguraian dan reaksi apa gitu pokoknya kurang baik. Hal ini pastilah anak kimia lebih paham.

*Oh yah, sella baru tau kalau ibu kota negara bagian Yucatan itu namanya Merida. Kalau kamu... Marry me?

Bandung, Maret 2016.
Photo resep kuartal ke-4 2015.
Semur Gendot Bersayap by sella
© 2016 Peri Tinkersell

Saturday, 12 March 2016

© 2016 Peri Tinkersell

Recipe modificated bye: Tinkersell


Bahan-bahan:

2 butir telur ayam (1 untuk adonan, 1 untuk olesan gunakan kuningnya saja)

7 sdm munjung tepung terigu
1 scht blueband kecil ukuran 17gr
4 sdm gula pasir
1 scht dancow putih

Cara membuat:

1. Kocok telur, gula pasir dan margarine (sisahkan sedikit untuk olesan magic com) menggunakan garpu/sendok hingga warnanya memucat.

2. Masukkan sedikit demi sedikit tepung terigu disusul dengan susu bubuk.
3. Tuang dan ratakan adonan ke dalam panci magic com yang sebelumnya telah dipanaskan.
4. Tuang kocokan kuning telur, ratakan.
5. Pencet tombol cook, jika sudah warm maka tunggu sekitar 4 menit lalu pencet cook lagi, jika tidak bisa maka biarkan saja pada tombol warm.
6. Jika harum semerbak sudah memenuhi kamar itu tandanya Lekker Holland sudah matang.
Oh yah, saya menambahkan taburan wijen di atas adonan sebelum di cook, kalau kamu punya kismis atau almond itu akan lebih baik.


Selamat mencoba!!! 
grin emoticon

nb: 


-adonan agak kental
-hasilnya seperti perpaduan antara nastart dan bolu, padat, pinggirannya kering. Harum serta legit.
© 2016 Peri Tinkersell

Recipe from: Allrecipes.com
Recook bye: Tinkersell

Ingredients:


1/2 cup shortening
(I replaced it with margarine)
1 1/3 cups packed brown sugar
1 egg yolk
2 cups sifted all-purpose flour
1 teaspoon baking soda
1/2 teaspoon salt
1 teaspoon ground cinnamon
1/2 teaspoon ground cloves
1/4 teaspoon ground nutmeg
1 cup chopped walnuts (optional)
1 cup apples - peeled, cored and finely + diced
1/4 cup milk
1 1/2 cups sifted confectioners' sugar
1 tablespoon butter
1/2 teaspoon vanilla extract
2 1/2 tablespoons half-and-half cream (I didn't add)

Directions:

Beat shortening and brown sugar together until light and fluffy. Beat in egg and blend thoroughly.

Stir together flour, baking soda, salt, cinnamon, cloves and nutmeg. 

Stir half the dry ingredients into creamed mixture. Stir in nuts and apple , then stir in remaining half of dry ingredients and milk. Mix well.

Drop from tablespoon 1 1/2 inches apart onto lightly greased baking sheet. Bake in a preheated 400 degree oven for 10-12 minutes.