Showing posts with label ilmu pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label ilmu pengetahuan. Show all posts

Friday, 23 September 2016


21 september

Angkutan Darurat

Omong-omong, saat mesti bawa Ayah kontrol yang pertama ke rumah sakit, Sella sama Ibu sempat kebingungan malamnya. Bagaimana tidak, Ayah baru saja buka jahitan dan masih ada darah yang ngerembes pada verban. Untuk dibonceng pake motor, itu tidak memungkinkan. Ada juga mobil pribadi punya teman Ibu tapi Sella gak bisa nyetir sendiri. Maka, pilihan paling tepat guna adalah AMBULAN.

Nah, persoalan kedua datang lagi, biaya ambulan dalam kota tuh sekali jalan sekitar 250-400k tergantung jarak tempuh. Kalau bolak balik, bisa-bisa untuk transportasi saja sudah ngabisin dana hampir 1 juta. Bukannya gak mau yang terbaik buat Ayah, tapi Ibu sekarang jadi tulang punggung keluarga. Dan masih banyak banget kebutuhan keluarga dengan 7 anggota di rumah. Kebayangkan seterongnya Ibundo Lastari. Hohoho.

Sebagai anak kekinian, Sella rajin lirik kiri kanan. Nah, dapet info tentang Layanan Ambulan gratis program Pak Wali, Walikota, bukan Walinikah

Buat temen-temen yang tinggal dan punya ktp bandar lampung, sila gunakan fasilitas ini. Cukup pakai photo copy ktp+kk. Gak pakai uang rokok, bensin dan jajan. Cukup kasih senyum, terimakasih dan nomer hape ke Mas Satpol PP-nya. Yaiyalah, gak usah ge-er, kalo kagak pake nomer hape nah mau ngubungin kamunya gimana?
.
Hotline Ambulan gratis siap jemput antar warga Bandar Lampung 0822-7822-1400


Tuesday, 31 May 2016

source: bisnisukm.com
 Minuman, satu nama yang selalu kita ingat selain nama mantan atau paling tidak (mantan) gebetan lah. Siapapun, tanpa terpaku pada jenis kelamin, latar belakang pendidikan, profesi atau bahkan status kejombloan kedudukan kita di masyarakat pastilah butuh minum.  Bahkan, kini minuman tidak hanya bisa diminum di tempat. You know what I mean lah yah, dia sudah portable, perlu dibawa kemana-mana kayak kenangan. Kebutuhan umum banget untuk dikonsumsi kapanpun kita perlu apalagi ketika sedang tidak berada di rumah. Gak ada galon yang setiap saat bisa dipencet saat kita butuh, kalau memang dia lagi gak kosong. Ya kali kalau pergi mau bawa-bawa galon. Kalau bawa-bawa calon sih kagak apa-apa. *eh*.



Maka dari itu terciptalah minuman kemasan. Minuman kemasan juga sudah tidak asing berjejer pada etales toko ataupun swalayan. Karena sebagian besar dari unsur pembentuk manusia itu yah air, udah itu doang sih intinya. Sebab itu wajar kiranya kita butuh air untuk bertahan hidup dan butuh pasangan untuk menikmati hidup *apasih*.  Tapi, pernah gak kepikiran sama kamu kalau ternyata minuman juga memiliki trend dalam pengemasannya loh. Iya, bukan Cuma cewek doang yang punya fashion trend gitu, tapi kemasan juga. Bahkan Technavio –sebuah lembaga riset tekhnologi independen dunia- melakukan riset dan menganalisis jenis bahan kemasan minuman yang bakal makin ngetrend di tahun 2020. Kira-kira apa aja yah…

1.PLASTIK
Selain praktis dan ringan, bahan plastik itu murah banget modal produksinya. Maka wajar kiranya banyak perusahaan minuman kemasan yang mengemas produknya dengan bahan dasar plastik. Secara global malah diperkirakan akan tumbuh sebesar hampir 4% pada CAGR (Compound Annual Growth Rate/Laju Pertumbuhan Majemuk Tahunan) atau kira-kira melebihi US $ 11 Miliar pada 2020 mendatang. Gak kebayang sih sebanyak apa yah plastik yang bisa dibeli dengan uang segitu, sebanyak rinduku padamu kah? Eeeaaa. Oh yah, gak semua bahan plastik aman untuk dipakai sebagai pengemas minuman. Salah satu yang aman adalah yang terbuat dari PET, plastik yang ringan namun kuat. Ketersedian desain juga beragam dibanding bahan baku yang lain.

2.KACA
Untuk beberapa minuman yang kira-kira bakal disimpan lama, seperti sirup dan susu misalnya. Maka kaca adalah media yang cocok. Cocok, kayak kamu dan dia. Dah aku mah apa. Huhuhu. Aku sama seperti kaca, yang walaupun cocok untuk beberapa orang produk tapi pada dasarnya penggunaan bahan dasar kaca untuk produk minuman adalah solusi yang dianggap usang. Kaca dinilai tidak praktis dalam pendistribusian, penyimpanan maupun pembuangan.  Tapi, sama seperti kita, kaca memang punya kekurangan. Namun coba lah sedikit buka hati guys, kaca itu bisa didaur ulang 100% tanpa perlu khawatir kehilangan kualitas dan kemurniannya. Beda banget sama plastik. Dan ternyata juga, minuman kemasan yang dikemas oleh kaca diperkirakan akan mengalami peningkatan permintaan melebihi US $ 7,6 miliar pada 2020, tumbuh pada CAGR lebih dari 2%. Sepertinya ini didukung oleh meningkatnya permintaan sirup karena mau puasa kali yah .

3.KARTON
Pernah minum sesuatu yang dikemas dalam bahan karton? Pemilihan bahan baku karton untuk beberapa produk minuman tentu saja bukan tanpa alas an. Bukan Cuma untuk terlihat keren, atau modis. Tapi, bahan karton yang dilapisi alumunium foil pada bagian dalam lalu dikemas vakum tentu saja bertujuan untuk mempertahankan kemurnian minuman tersebut. Agar tetap steril. Agar tidak ada pihak ketiga yang mengganggu, virus dan jamur misalnya. Atau teman yang mau nikung kamu misalnya? Halaaah. Dan Technavio memprediksi bahwa CAGR dari minuman berbahan dasar kemasan karton akan mencapai 7% atau sekitar US $ 7,6 miliar pada 2020. Jumlah yang cukup besar, bukan? Tampaknya juga, karton dipilih karena sangat mudah di daur ulang tanpa memberi dampak yang berarti pada kerusakan lingkungan.

4.LOGAM
Dalam prediksi Technavio, CAGR pada kemasan logam/metal adalah yang terendah disbanding dengan bahan baku kemasan yang lain, hanya pada kisaran 2% saja atau mencapai sekitar US $ 4 miliar pada tahun 2020. Biasanya almunium dan baja lah yang digunakan sebagai bahan baku kaleng minuman. Namun diantara keduanya, alumunium lebih disukai karena ringan. Namun diantara keduanya sih aku gak bisa milih, lebih pilih kamu aja. Huhu. Bahan dasar logam juga cukup mudah di daur ulang. Bahkan di Eropa, tingkat daur ulang kemasan logam mencapai 75% dan bisa menghemat energi yang digunakan untuk bahan bakar hingga 90%.

Setiap bahan baku tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Lagipula, beda jenis kandungan minuman tentu saja membutuhkan perlakuan dan bahan kemasan yang berbeda. Entah menggunakan bahan baku apapun, kita semua tentu ingin kemasan yang aman untuk kesehatan kita dan kesehatan mantan *eh*. Oke, stop membicarakan itu. Dan gak ngerti juga sih gimana itungannya untuk bahan dasar logam, kalau 75% pendauran aja bisa menghemat sampai 90% lalu bagaimana jika proses pendauran mencapai 100% yah? Wuah terus gak kepikiran juga, apa di Eropa ada pengepul bahan untuk daur ulang juga yah seperti di Indonesia? Heum mending jangan terlalu musing mikirin itu sih. Kamu mah cukup pikiran aja nasibmu aja, mblo.




Daftar Pustaka:
Artikel asli berjudul “Which Beverage Package Format Will Dominate Through 2020?” oleh Anne Marie Mohan, Senior Editor Packaging World. Digubah dan disesuaikan untuk kebutuhan oleh Sella S. Sembiga Koto, Senior Jomblo Dusbox Bandung.


Bandung, 28 Mei 2016

Friday, 8 April 2016

Sebagai tamu di Kota Bandung, The Capital City of Asia-Africa, maka saya mesti selalu manut dengan kebijakan bajik yang ditutur oleh Pak Wali. Tentu saja dalam hal ini yang saya maksud adalah Pak Wali Kota, Ridwan Kamil. Bukan Pak Wali nikah saya, Ayahanda Benny. Satu diantara kebijakan yang mengandung unsur kebajikan itu adalah "Belanja di Warung Tetangga". Namun apa daya, warung tetangga yang jaraknya sekitar sepuluh langkah besar dari kosan saya belum mampu memenuhi segala kebutuhan. Misal, saya butuh toples plastik peranti wadah kerupuk sebagai teman makan eh di warung tetangga gak ada. Pas saya butuh kehadiran kamu peranti teman hidup eh di warung tetangga juga gak ada. Terpaksa deh saya pergi ke Liana (nama sebuah swalayan) yang jaraknya sekitar seratus mapuluh meter dari kosan. Yah minimal, saya masih tetep belanja di tetangga. Swalayan tetangga.

Maka pergilah saya ke Liana Swalayan dengan Tote Bag (Tau kan kebijakan yang ini, kantong plastik berbayar di swalayan?) Di saku jaket sebelah kiri dan dompet kecil berisi uang rupiah "secukup-kiranya" di saku sebelah kanan. Dan kunci, dipergelangan kaki eh tangan. Alasan saya bawa rupiah, karena saya pasti gak akan dilayanin kalau bawa Won apalagi bawa lembaran Daon. Pasti gak laku. Alasan bawa uang "secukup-kiranya" juga karena saya gak mau nurutin setan. Dia suruh saya bawa uang banyak-banyak. Biar boros. Biar jadi temennya. Kan kan kan gak mau.

Start saya memasuki Liana ba'da maghrib. Mungkin lain kali saya mesti periksa mata ke Optik. Soalnya ada yang aneh. Kenapa pusat perbelanjaan selalu nampak bersilau di mata saya? Kalau karena efek lampu, ah tidak juga. Terus, kenapa saya merasakan kesejukan kayak yang lagi ada di surga tapi tidak ada air mengalir di bawahnya. Yang ada, uang dari dompet kita yang mengalir deras ke laci kasir kalau gak di bendung.

Keliling lah saya, terus di suatu rak menemukan aneka masakan dan jajanan pasar. Dan tau sekarang apa yang berkilau di mata saya? SEMUR JENGKOL!!! Yap benar saudara-saudara. Saya eksyaitit banget sama semur jengkol. Dia dan Rendang adalah Dua menu peringkat teratas dalam daftar menu yang "BELUM DIKUASAI NAMUN HARUS KARENA ENAK BANGET". Dia dan rendang padang selalu bikin saya bertekuk lutut dihadapnya dan bikin baper karena merasa cemen juga keder kalau disuruh memasaknya. Dia dan Rendang Padang buatan Ayah adalah yang selalu bikin saya kangen untuk kemudian ingin cepat-cepat balik ke Rumah. Gak masalah sama aroma amoniak yang pasti melekat di kamar mandi. Karena sekarang udah ada Wipoll anti kuman yang bikin kamu serasa berada di hutan cemara.

Semur Jengkol (source: masakanlezat.com)

Tapi...misi saya ke Liana bukan untuk membebaskan Semur Jengkol dari Rak Pajangan untuk kemudian menebusnya di Meja Kasir. Bukan itu. Saya kan niatnya cuma mau beli toples --yang gak tersedia di warung tetangga--. Tapi...tega kah saya melihat Semur Jengkol melambai-lambai gemulai? Padahal saya sudah makan nasi pake ayam kecap buatan Tria. Padahal saya sudah nempel tulisan besar di kamar;

DIE(T) or DIE
Dan siapapun bisa mudah menebak, semur jengkol berpotensi besar menjadi penggagal paripurna program diet saya. Kemudian saya bimbang. Muter-muter Liana walau sudah nemuin toples. Saya galau.

Saya ubek-ubek gadget. Siapa tau dapat pencerahan. Saya tanya sama Tante Google, ayat apa yang bisa menguatkan saya untuk tidak tergoda dengan rintihan semur jengkol nan medok itu.

"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemborosan itu adalah saudara setan." - Al Israa 26-27 -
Oke fix, kalau udah dianggep-anggep sudara setan gini mah saya nyerah. Setan gak dianggep sodara aja seneng berkunjung ke hati saya, apalagi kalo udah jadi sudara? Mungkin dia bakal jadi penghuni tetap dan aktif. Saya ngobrol sama sella yang wajahnya muncul pada layar henpon yang tetot mati karena abis batere.

"Sel, kamu udah makan ketoprak, seperapat kilo manggis, 2 porsi nasi ayam kecap, mie bakso serta kerupuk 2 bungkus hari ini. Dan kamu masih mau ngembat semur jengkol, Sel? Sella yang kamu lakukan ke perut aku itu jahat!"

Kemudia Sella menghilang, saya simpen dia di saku celana training. Teteh yang jaga kasir merhatiin saya. Dikiranya saya kehilangan arah. Saya samperin Teteh kasir. Bukan, bukan untuk marahin dia sambil nunjuk-nunjuk dan teriak kalau saya anaknya Jendral. Saya cuma mau bayar apa yang sudah saya masukkan ke dalam keranjang belanja warna biru. Dan, tidak ada senyuman Semur Jengkol Medok di sana.

Saya, pasti akan membebaskan kamu dan menebusmu. Tapi bukan hari ini. Mungkin besok atau lusa. Bukannya saya tak suka kamu. Bukan juga saya tak mampu meminang kamu. Tau kan, perempuan Minang punya kemampuan untuk Meminang. Bukannya aku tak menginginkan kebersamaan kita. Hanya saja, sekarang bukan waktu yang tepat.

Ingat yah semur jengkol di Liana Swalayan. Kutandai muka kau!

Bandung, April 2016




Belum beli gas dan banyak cucian.

Thursday, 31 March 2016

*For my english, pardon me, please*

Today I wake up very early, 01.57 am. Good. For The God shake, I can't sleep again. My tummy has contradiction. No... are you think that I've want to give a birth? Calm guys, I'm not. In other word, I'm not pregnant women. Hehehe. I'm single and in my country, single is some ridiculous things for young people. Haaah sorry, I'm not focus. Sampai mana tadi?

Tahu Jeletot (Indonesian Food Street)
Oh yah, this tummy-ache (Hello, I prefer using "tummy" than other word) because of my self. I enjoying my meal with very spicy tofu in sundaness bahasa it's called TAHU JELETOT. Jeletot it's mean very very hot/spicy. If you come here, you must try! Or, would you like to cook it at your home? Indonesia memang jago mengonsumsi cabe! Hidup cabe! Cabe-cabean hidup! Wuhuhu

Me, Tria and Irma are Queen of Sambal! We love spicy very muaaach.

Eh yah, walau begitu, ada juga loh yang gak suka --atau bahkan gak doyan sama sekali-- cabe/pedas. All mans in our workshop didn't like chilies/spicy. Yesterday, A Galih ate "Rujak Bebek" (Rujak Bebek (read : beubeuk)  is a like traditional west java appetizer food, from many fruits slice with palm sugar+peanut sour sauce and you can add chilies if you want) without chilies but he felt hot with tomatoes warm face :D

http://www.infobdg.com/v2/wp-content/uploads/2014/06/2-dpu46.jpg
Rujak Bebek (sourch: infobdg.com)

Pun begitu dengan Ical dan Kak Steev. Mereka juga gak suka pedas. So, when I and Tria cook meal for them, we must REMEMBER to not use CABAI. Ah, padahal hidup tanpa cabai kan sama aja kayak hidup tanpa cinta.

Padahal, did you know?
Cabai layak dikonsumsi dan disukai bukan hanya karena rasanya yang nikmat dipadu dalam beragam masakan. Cabai pula mengandung beberapa vitamin. Yang dominan sih, vitamin C. Cabai pula dapat meningkatkan metobolisme tubuh dan meningkatkan nafsu makan. Makanya kali yah, di workshop tuh yang perempuannya pada "berisi" sedangkan yang pria pada "kurus" kayak kurang gizi. Hihihi. Peace!
Yah, walau saya harus sakit perut karena cabai. Saya gak masalah. Gak akan berhenti untuk menyukai cabai cuma gara-gara ini. Hanya saja mungkin, mengonsumsi cabai secara berlebihan itu kurang baik.

Jangan mencintai atau membenci sesuatu secara berlebihan. -unknown-

Suka cabai boleh, asal gak berlebihan. Suka ke aku boleh, asal gak berlebihan. Semua yang berlebihan itu gak baik, kan?


Bandung, 31 Maret 2016


Yes, mau gajian!

Wednesday, 30 March 2016

Saya terangkan, tulisan ini untuk kita ambil pelajarannya sama-sama. Sama sekali gak ada niat mengintimidasi spesies makhluk tertentu. Jadi orang yang "tau" diri jelas sangat perlu.
Barang siapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya. -Unknown-
Pagi tadi. Bandung bagian sukasari, lagi dingin-dinginnya. Tapi bagi yang suka-kamu, lagi ingin-inginnya. Hiaaaah baru juga ngetik kok udah gagal fokus yah saya. Hehe. Di sini ada kopi white instant rasa mocca. Sambil dengerin stars on your eyes-nya mocca, saya berselancar ke dunia lain. Yup! Dunia maya. Scroll scroll scroll eh nemu sesuatu yang menarik perhatian saya, dari seorang senior himpunan pas kuliah.
Demi sambel oncom suuk yang di uleg dina coet batu... Cabe-cabean bukanlah termasuk tumbuhan dari genus capsicum... ‪#‎biologi‬ ‪#‎ilmiah‬‪#‎sciencetific‬ ‪#‎cabe‬ ‪#‎askwhy‬
Saya bengong dulu, kok akang ini statusnya multitafsir. Jadi saya komen aja deh. Dari pada cuma tebak-tebak buah manggis kan kagak jelas juntrungannya.

"Loh bukannya cabe-cabean emang capsicum? Kalau bukan, jadi apa dong Kang?"

Lalu diberinya saya penjabaran secara detail.
Cabe-cabean adalah mutasi gen dari cabe yang terkontaminasi oleh pergaulan bebas dan gaya hidup sub-urban sehingga keluar dari genus capsicum dan tidak lagi bersama family soloneae. Kingdom cabe-cabean terindikasi perpaduan antara plantae dan animalia yang termutasi karena bedak made in china yang melebihi ambang batas ketebalan foundation.. Sehingga diidentifikasikan ke dalam kingdom baru yaitu mutanisae..._-Kang Mukhlis-
Masya Allah pagi-pagi udah ngakak deh. Hahaha. Jadi inget yah pas saya bahas tentang cabe habanero a.k.a gendot/gandol. Sempet juga saya ketik kalau cabe-cabean adalah jenis cabe yang paling fenomenal. Dan percepatan penyebarluasan spesiesnya ngebut banget. Didukung oleh kemudahan --yang makin kini makin mudah-- untuk memiliki kendaraan roda dua bermesin dengan cara kredit. Pake down payment maratus rebu juga udah bisa punya motor. Makin pesat aja deh pertumbuhan spesies ini. Kita bisa temui di jalan-jalan alteri, sekolah-sekolah, tempat kongkow sampai kuburan. Dari dunia nyata, maya hingga astral tuh sudah diselipi oleh mereka. Dedek-dedek gemes --meminjam istilah dari om diva press-- sepertinya merasa menjadi cabe-cabean adalah trend kekinian yang mesti dijunjung melebihi Pancasila. Naik motor bertigaan tanpa helm serta kelengkapan syurat-syurat juga sah ajah biar tetep cuantik tanpa merusak model rambut yang udah dicatok lima jam sebelum mejeng. Ini sih yang pernah saya temuin. Duh boro-boro inget ngidupin lampu sen pas mau belok, lah inget bapak engap-engapan bayar cicilan aja kagak.

Ciri-ciri yang paling umum untuk mengenali spesies ini adalah:

1. 3B (BB, Behel dan Belah tengah).
2. Bonceng unlimited, selama jok masih muat.
3. Pakaian ketat kebuka kemana-mana.
4. Pacaran gak tau tempat.
5. Tiap jalan lima langkah cekrek-cekrek-updates-share.


Dedek-dedek gemes

Mestinya kita lebih sadar dan kenal tentang diri kita yah. Biar kita bisa ngertiin tentang sekitar. bergaya boleh tapi jangan sampai bikin eneg sekitar.

Sebenernya gini, dedek-dedek ini mungkin bukannya sengaja berperilaku seperti itu. Mungkin, mungkin loh yah. Bagi mereka tampaknya itu hanyalah hal biasa yang tak perlu kita --orang dewasa-- persoalkan apalagi sampai dibesar-besarkan. Tapi Dek, yuk ikut kelas kepribadian yuk. Mau?


Bandung, 30 Maret 2016



Lagi jemur kasur, semoga gak ujan.