Showing posts with label muhassabah. Show all posts
Showing posts with label muhassabah. Show all posts

Tuesday, 26 December 2017


Semarak End Year at Tampines Hub © 2017 PERI TINKERSELL

Akhir tahun identik dengan intropeksi, refleksi dan resolusi. Dan, ada satu lagi yang juga cukup ngetrend di kalangan pemuda-pemudi harapan bangsa seperti Saya. Yaitu, make opportunities to other who want to ask everything that they want. Yah, sebagai aktivis sosmed, Saya pun melakukannya. Dan tentu saja, pertanyaan-pertanyaan baik yang terduga maupun tak terduga bermunculan. Dengan beragam bahasa, pertanyaan-pertanyaan itu terlontar. Tapi, Saya akan mengeneralkan dalam Bahasa Indonesia saja, yang mungkin belum baik dan benar. Karena, kesempurnaan manusia berada pada baik-buruknya dan benar-salahnya sekaligus.

Saya akan membuat list pertanyaan tersebut (dibagi dalam dua Bab, karena, selain pertanyaan tentang Saya, ada pula yang sebenarnya ditujukan kepada Kang Acil tapi melalui Saya dan Saya menjawabnya tanpa meminta jawaban dari Doi) sekaligus jawabannya yah, biar Kamu gak perlu ikutan pusing mikirin jawabnya...


Bab I

1. Apakah rahasiamu yang tidak diketahui orang lain? (The most question that I got).
Honestly, hampir semua rahasia Saya adalah rahasia umum. Ada aja orang yang tau. Tapi, di sini Saya akan menuliskan rahasia yang tidak ada seorang pun yang tahu sebelum ini. Yah, jadi, Saya suka buat playlist lagu yang kadang kontinental, oriental maupun tradisional ketika mau masak. Dan, Saya akan masak sambil menari. Semacam ritual, itu lah sebabnya mungkin mengapa masakan Saya terasa enak dan menjadi kenangan dilidah penikmatnya. Dan juga, saat workout di dalam kamar yang terkunci, Saya akan memutar musik dengan frekuensi sedang kemudian workout hanya dengan menggunakan bra sports (sesekali dibalut jumper dari Uniqlo) dan celana ketat. Tapi, ukuran bra itu akan tetap jadi rahasia. Saya tidak akan mengetiknya di sini.

2. Apa yang Kamu lakukan ketika rindu rumah dan jauh dari orangtua?
Saya akan masak masakan minang atau masakan traditional yang ribet-ribet yang dimana Ibu juga Ayah bisa memasaknya dengan simple. Dengan begitu, Saya berasa di rumah.

3. Apakah Kamu masih mendengar Adzhan di sana (Tampines, Singapore)? Bagaimana perasaanmu?
Saya hampir tidak pernah mendengar Adzhan selain dari aplikasi di handphone kecuali jika Saya berada dalam radius 50 meter dari Masjid. Perasaan Saya? Biasa saja. Karena memang di sini, muslim minoritas dan gaungan Adzhan tentu saja dianggap menggangu bagi yang tidak mau/perlu mendengarnya. Saya harus makhfum dan maklum. Sebagaimana umat muslim lain dimana ketika menjadi mayoritas, mereka akan pusing dan khawatir mendadak kafir ketika mendengar lagu-lagu kebaktian gereja.

4. Berapa tinggi badanmu?
153 sentimeter.

5. Kapan rencana menikah?
Tadinya, rencana Kami (dengan main asal ucap) tanggal 18 September 2018. Namun, dengan pertimbangan lain-lain, selain urusan E-KTP yang memang Kami berdua belum punya, jadi direvisi 2019.

6. Dimana rencana akad nikah?
Sebenarnya ini pertanyaan yang agak gimana gitu, tentu saja di lingkungan domisili kedua orangtua kandung Saya. Sebagaimana kebiasaan masyarakat umum di Indonesia.

7. Apa yang Kamu lakukan jika Kamu punya kesempatan untuk menjadi laki-laki?
Wow, Saya hampir tidak pernah membayangkannya. Tapi, mungkin, Saya akan berlarian dan main air di pantai dengan bertelanjang dada.

8. Apa yang akan Kamu lakukan jika hari ini adalah hari terakhirmu di Bumi?
Saya akan memesan tiket ke Bandung, terbang dan kemudian memeluk seseorang di sana.

9. Mengapa Kamu bertanya tentang Kang Ragam beberapa waktu lalu?
Karena, Beliau tengah dekat dengan teman dekat Saya. Dan tentu saja, Saya harus tahu kepribadiannya.

10. Kapan Kamu habis kontrak kerja di sana?
Mei 2019 sesuai dengan kertas yang dikeluarkan Kementrian.


Bab II 

1. Kalian serius (merencanakan nikah)? Kayak bercanda.
Serius. Saya gak bisa bilang kalau Kami serius dalam bercanda sekaligus bercanda dalam serius kepada orang yang belum mengenal Kami dengan baik dan benar. Dan, kalaupun Kami tidak jadi menikah, itu semata-mata karena kehendak-Nya. Bukan karena ketidakseriusan Kami.

2. Pernah bilang cinta?
Kami bilang cinta hampir ke semua makhluk. Bahkan pada Mie Samyang keju pun, Saya berkali-kali bilang cinta. Jatuh cinta, bangun cinta.

3. Kerja apa (Acil)?
Gak tau, urusan dia itu mah. Karena Saya benar-benar yakin bahwasanya rejeki bukan dari Suami, Orangtua, Teman atau siapapun. Toh, hidup dalam kejombloan pun Saya masih hidup senang kok.

4. Masa mau Lu yang ngidupin dia?
Emang, ada manusia yang sanggup ngidupin manusia? Saya pun bertanya balik dengan serius, emang ada?

5. Awas jangan biarin Acil chat sama cewek lain, tar selingkuh!
Biarin, justru lagi nyari Madu. Ini juga serius, Kang Acil dan Saya sepakat untuk berpoligami jauh sebelum Kami memutuskan untuk berjalan beriring. Dan, cukup tiga saja. Karena ganjil, Kami memang ganjil. Ada yang minat daftar? Saya serius. Bisa inbox dan kirim CV.

6. Acil lulus kuliah?
Saya juga gak, what's wrong? Apakah lulus kuliah adalah sebuah jaminan tentang tekad dan tanggungjawab seseorang? Kang Acil cuma ninggalin satu kampus. Lah Saya, sampai tiga. Hahahah.

7. Hati-hati dimanfaatin!
Saya juga manfaatin Dia. Yah, karena sesungguhnya hidup adalah tentang memanfaatkan dan dimanfaatkan. Itu hal yang wajar, yang penting, mutualisme. Jangan hanya salah satu aja yang merasa diuntungkan. Lagian, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat.
8. Kenapa Acil gak shalat?
Dia (sejauh ini) hanya shalat ketika merasa butuh, Sama halnya soal mandi. Kedua hal itu hanya akan dilakukan ketika benar-benar merasa perlu untuk kembali kepada kesucian. Dan, bagi Saya, melakukan sedikit itu lebih baik daripada meninggalkan semuanya. Dan daripada, nanya ke orang lain kenapa si Anu gak shalat hanya buat menunjukkan kalau Kamu itu lebih bertaqwa dibanding si Anu.

So, that's my end year answers dan pasti akan ada pertanyaan lagi yang muncul. Biar lah itu menjadi bahan intropeksi, refleksi dan resolusi Saya. Karena tak selamanya Kita mengambil jalan yang sama walau kadang memiliki tujuan yang sama. Tapi, memiliki teman seperjalanan yang paling sefrekuensi adalah pilihan tepat dibanding teman yang sekedar dicintai. Karena sesungguhnya, cinta hakiki Kita hanya milik-Nya. Jangan membuat Dia cemburu karena dimabuk cinta hakiki dengan yang lain.

Cintai secukupnya sebagaimana Kamu mencintai dirimu yang berhasil diet walaupun belum kayak Kareena Kapoor, sebagaimana Kamu mencintai makanan yang membuat kenyang bagi orang-orang yang kelaparan, sebagaimana Kamu mencintai pohon yang meneduhkan dengan mengolah CO2 menjadi O2 dan sebagaimana Kamu mencintai hujan yang menghasilkan harum petrikor sehingga Kamu bisa bernostalgia dengan masalalu. Cintai secukupnya bagi yang selain Dia.

Kata orang-orang sini, Selamat Natal yah!
Kata orang-orang kebanyakan, Selamat Tahun Baru yah!
Kata Sella, Sellamat mencintai dirimu yang jangan apa adanya!



Tampines, 



December, 26th 2017

Tuesday, 12 December 2017


Hari ini, Sella mau ngedongeng saja. Ah, dongeng adalah istilah yang sudah lama tidak Sella pakai. Dan hari ini muncul kembali karena Kang Ragam sebut-sebut tentang dongeng.


Source: Google


Ada makhluk yang namanya Sungai. Bersahabat, menenangkan dan selalu menjadi pusat gurau canda tawa bagi makhluk lain di sekitarnya dalam kondisi normal.

Angsa, Rusa, Gajah dan manusia tertawa jenaka dalam alirannya sambil main percik-percikkan. Rumput-rumput dan pepohonan menikmati kehidupan melalui kecupan-kecupan akar pada Sungai. Batu-batu besar saling adu kuat, siapakah yang mampu bertahan paling lama menggenggam Sungai. Ikan-ikan, udang, daun dan kotoran tak sungkan berbagi ruang dalam dekapan Sungai. Ditambah lagi, aliran-aliran air dari segala penjuru yang lebih kecil. Ah, alangkah  tentramnya Sungai dalam kondisi normal.

Dan Sungai, agar selalu jernih, harus selalu mengalir. Samudera adalah tujuannya. Tapi kadang Sungai lupa, seperti hari ini, bahwa bukan hanya dia yang butuh Samudera. Banyak makhluk lain di Bumi ini yang butuh Samudera. Sungai tak boleh terlalui egois. Ikan-ikan laut, ganggang, Kapal nelayan, Kapal pesiar dan beberapa makhluk lainnya pun butuh Samudera.

Sungai pongah, Ia merasa makhluk lain adalah benda asing. Uring-uringan lah si Sungai. Tak lagi setenang hari biasanya, Ia menahan-nahan aliran. Ditambah lagi, hujan deras melanda. Air jernih Sungai bertransformasi bagaikan Es Milo yang bongkahan es-nya mencair. Coklat, dingin namun hambar.

Dalam kondisi tidak normal, Sungai bukan lah makhluk yang menyenangkan. Beberapa memilih menghindar. Beberapa tetap bertahan.

Sungai hampir banjir. Sungai menyalahkan hujan. Ah, tapi hujan berasal dari gumpalan awan. Ah, tapi gumpalan awan berasal dari uap air di Samudera. Ah, tapi air di Samudera pun sesungguhnya berasal dari Sungai.

Maka, penyebab kekacauan di Sungai adalah Sungai sendiri. Bukan dari luar, bukan dari makhluk lain.

"Pantesan Tuhan senang nyusahin hamba-Nya kalo hamba-Nya sedang tidak dekat dengan Dia." - Kang Aciel, dalam Hiburan Siang -

Tuhan sepertinya sedang bikin Sungai susah dengan adanya banjir. Padahal sesungguhnya yang sebenarnya, Tuhan hanya ingin Sungai kembali jernih. Kembali menyenangkan.



-  (Belum) Tamat -






Tampines, December 12th 2017

Tuesday, 14 November 2017


Photo credit: www. furballcritters.com

Beberapa hari kebelakang, selepas Mba Kahiyang Ayu anaknya Pakde Presiden Menikah, ada sebuah video instastory komentar lelucon (katanya make-up Mba Kahiyang kayak hantu) dari seorang selebgram yang viral bahkan sempat masuk dalam postingan akun gosip di Instagram. Saya termasuk kudet (kurang update.red) untuk hal ginian sebenarnya. Tapi karena salah seorang teman dekat memberi tahu, jadi deh tahu, eh tahu bunting enak kali yah *gagal fokus*.

Sebenarnya Saya secara pribadi gak kenal sama Mba Selebgram-nya tetapi jauh sebelum "peristiwa" itu muncul, Hanum, teman Saya, pernah nunjukin akun Mba-nya. Ngasih tau gitu make-up yang lagi in. Eye shadow bawah mata yang menurut penglihatan Saya --yang gak cakep dari sananya ini dan sekarang gak suka make up-- malah membuat kesan pucat gak segar macam orang sakit. Nah karena melihat akun si Mba-nya ternyata Doi itu calon istrinya (sekarang sih udah resmi nikah) teman sekelas Saya pas SMA kelas 2&3. 

Dulu yah sebelum kejadian ini, Saya lihat sekilas akunnya Mba Selebgram, penuh pujian hampir disetiap postingan. Fotonya memang bagus-bagus, cantik & anggun. Beninglah kalau istilah anak cowok mah. Namun, pasca kejadian viral itu akun Mba Selebgram menghilang. Saya juga kalau jadi Doi mah mending tutup akun aja dulu lah. Pusing. Apalagi masih bulan Madu. Heu. Tapi yah, hampir disemua postingan akun gosip tea yang memposting lelucon Mba-nya, ada aja akun bodong yang bikin suasana panas. Pokoknya pedes, jahat. Jadi kayak yang akun itu sengaja dibuat untuk makin menjelekkan si Mba-nya. Duh, niat banget ye...

Melihat persoalan Mba Selebgram, sebenernya ini tuh masalah biasa yah, tiap orang biasanya sih pernah keceplosan komentarin orang lain, lah Saya aja pernah bilang make-up Die pucat kayak orang sakit, kebetulan aja Saya bukan Selebgram dan si Hanum gak Screen Shot Kite punya obrolan. Lah apa jadinya kalau Saya orang terkenal terus ketauan ngomong "nyambel" kayak gitu? Yah gak beda jauh deh sama Mba ini. 

Ada juga persoalan Seleb yang lepas jilbab karena alasan apa gak tau dah gak ngikutin infotainment, heheheh. Jadi heboh seantero. Lah di sisi lain juga Saya baca cerita dari Teh Anita kalau temennya yang dulu sempet ngaji bareng terus sekarang jadi tentara dan lepas jilbab. Dan, honestly, karena suatu situasi kondisi yang harus dijelaskan secara pribadi, Saya juga pernah lepas jilbab dalam kurun waktu dua bulan. Yah karena sekali lagi, Saya mah bukan  seleb, jadi orang gak heboh. Dan semoga Allah mengampuni Kita.

Dari sini Kita belajar, gak selamanya Kita berada dalam posisi ini. Dan, gak semua orang yang bersama Kita saat berada di atas adalah orang yang bener-bener sayang. Kata Hanum juga, kesuksesan tuh mengundang kaum munafikun. Kata Hanum loh yah, bukan kata Saya. Hahahahah. Ini bukan cuma perkara dunia yah. Kita juga yang merasa Shaleh & Shaleha, lebih baik hilangkan perasaan begitu~ karena Kita gak tau bagaimana catatan akhir Kita. Lagian juga yah, aib diri ini mah yelah  numpuk banget, mudah bagi Allah buat ngebuka dan muter balikin posisi Kita sekarang. Yang perlu Kita lakukan adalah terus bergerak di jalan kebenaran. Benar menurut apa? Pedoman hiduplah, Al-qur'an dan Hadist. Yah sama lah, Saya juga masih baca-baca ini pedoman. Kadang-kadang juga melenceng, yah balik lagi, semoga Allah mengampuni Kita.

Gitu deh, hidup ini kan bukan berputar tapi Kitanya tetap di situ-situ aja. Kadang Kita di atas, dengan pujian riuh ramai. Kadang juga Kita di bawah, penuh cibiran dan dimampusin orang-orang. Iman juga gitu, up & down. Karena Kita bukan Hamtaro maupun Marmut merah jambu-nya Bang Radit yang seakan berjalan jauh tapi gak kemana-mana. Insyallah Kita mah lagi ngayuh sepeda di alam bebas, bukan di tempat nge-gym juga sih. Itu mah sama aja kayak Marmut di kinciran.




Tampines, November 14th 2017.

Thursday, 9 November 2017



©Asril Tanjung Arasyid


Sebagai makhluk yang susah dimengerti versi manusia, Sella susah juga punya partner yang klik lahirriyah dan batinniyah. Sama Teh Anita yang pernah tinggal bersama aja kadang suka bergesekkan pendapat. Nah, Salah satu dari sedikit partner klik ini adalah...yah siapa Dia, yang sudah cukup sering di ketik namanya dalam blog Sella. Hari ini Sella khususon membahas Dia,


Asril Tanjung Bin Muhammad Rasid


Yup, Kang Aciel adalah mantan "Suami" Sella dan Yuval, dalam komedi #AIWA yang alhamdullillah udah Sella bubarkan pada tahun 2015. Pria jebolan Bandung pada 29 September 1991 ini adalah bungsu dari 3 bersaudara. Jadi bisa dipastikan, Kang Aciel ini kesayangan Teteh-Tetehnya. Mungkin itu juga sebab mengapa masih lajang hingga kini. Masih dianggap imut dan susah dilepas untuk mengarungi dunia luar rumah. Mungkin.

Kang Aciel ini keturunan Minang. Dengan tinggi tubuh sekitar 15-20 cm lebih tinggi dari Sella. Tapi kenapa matanya sipit kayak China? Sella juga gak tau, tapi Sella rasa itu diturunkan dari Mamah Yunidar (And this remind me of my grandma's name from Ayah, Asnidar). Tapi Akang gak putih China kok, but he said my skin is dark. Padahal Sella punya kulit walau gak putih yah gak item juga sih. Lah jadi curcol.

Istimewanya Kang Aciel apa sih? Heum, kayaknya memang mesti kenal langsung deh baru bisa tau istimewanya~ Percayalah, Kang Aciel gak "semurtad" keliatannya. Ia hanya mencintai Tuhan dengan cara yang sedikit khusus. But, terlepas dari kurang dan lebihnya Dia sebagai makhluk, yang penting klik ke Sella. The basic of our partnership is "Nyambung". Bagi Sella, nyambung adalah keutamaan. Karena ini jadi dasar untuk komunikasi juga, kalau gak nyambung, cemmana pulak nak berbual, kan?

Jadi gini, hari ini Sella lagi in the mood to write. Dan Akang baca, yang kemudian Sella jadi baca juga tulisan Akang. Honestly, this is first time for me feeling up and down at once. Tulisan-tulisan Akang tuh magis. Sampai kepikiran eta otak sama hati yang bersayam pada raga Kang Aciel kok Keren banget, Cinta dah gue. I can't explain, Kamu bakal tau kalau Kamu baca. Sayangnya, itu tulisan istimewa anet. Di-setting khusus dong pembacanya. Tapi ada yang melekat banget di alam fikir Sella. Gapapa deh Sella kasih buat Kamu,


"...Ia selalu menerorku, bahkan walau tau bahwa Ia itu misteri..."


Kata-kata ini sangat menggetarkan si Hati. Mengusir sang rasa khawatir juga membuat mesrah bibir berdzikir. Senada dengan tulisan pendek Sella di Facebook. Menanggapi kekhawatiran diri pada Masa Depan. Masa Depan yang mana coba? Yah yang katanya Surga-Neraka tea lah.

Dah kalau masa depan sama Kamu mah itu cuma testing, cuma bentar. Kayaknya aja lama, padahal 1 hari di akhirat sama dengan...

Nb:
- Bagi yang minat ke Kang Aciel, bisa tanya-tanya Sella. Insyallah kalau cocok di Sella, cocok juga di Akang. Hahahahaha.

- Eta pakai photo lama, kalau mau lihat photo terbarunya bisa lihat di Akun Facebook-nya Akang weh nyak, gini nih kalau promo gak dibayar.

© 2017 PERI TINKERSELL


Udah dulu yah, I need take a nap. Ujan pulak.
Salam mangga Thailand~



Tampines, November 2017

Monday, 6 July 2015

" Take it easy my friend
Grab the chance while you can
It's time for us to move on
Let the world sing you a song..." - Do What You Wanna Do, Mocca -

Salah seorang penulis legendaris yang dimana salah satu karyanya "The Alchemist" menjadi salah satu buku tak lekang oleh waktu, Paulo Coelho pernah berkata...

"Jika kita benar-benar menginginkan sesuatu maka alam semesta akan berkonspirasi untuk mewujudkannya."

Di sini kuncinya, kata "benar-benar", kamu percaya?

Saya dapat kisah (curcol) dari seorang kenalan. Hah? Kenapa saya sebut kenalan? Bukan kawan? Nah ini, kami "berteman" di salah satu jejaring sosial sudah cukup lama, sejak 2012. Saya bahkan bingung, tidak ingat kapan kami pernah saling meng-add dan konfirmasi pertemanan. Hahaha

Bermula dari dia yang acapkali muncul pada beranda, me-like ataupun komentar status saya lalu saya lihat profilenya ternyata anak UPI juga, maka saya pemasaran eh penasaran maksudnya...

"Kang, punten, kita teh kenal dimana yah? Pernah ketemu?"

Kemudian dia menjelaskan, ternyata oh ternyata dia juga anggota komunitas sosial yang dimana dulu saya menjadi sekretarisnya. Kebetulan dia tidak aktif maka kami tidak kenal.

Ternyata, di sinilah salah satu titik balik saya, soal masa depan saya, maaf yah ini saya bukan lagi bicarain soal jodoh-jodohan. Mungkin jodoh dalam hal "visi dan misi" bukan jodoh yang buat bangun rumah dan tangga. Allah menegur saya melalui dia, Fahri namanya, yang untuk kemudian selanjutnya tidak mau disapa "Kang" karena bukan orang Sunda, maka saya panggil "Kak".

Kak Fahri berasal dari Morotai, kamu tau itu dimana??? Apa bahkan baru dengar namanya seperti Teh Atul yang anak Sejarah tapi bahkan gak sadar kalau Morotai ada dalam peta Indonesia,

" Dari ternate kalo mau ke tempat fahri... Ini jalurnya kalo lewat darat.. dari pelabuhan speedboat ternate.. Nyebrang ke sofifi skitar 45 menit.. Setelah itu naik mobil, disana disebit ''OTO''. Ke tobelo sekitar 6 jam.. Dari tobelo baru nyebrang pake ferri sekitar 5 jam... Udah deh nyampe ke kab.Morotai..." - Kak Fahri, melalui What's App -

Itu mungkin cukup memberi gambaran pada kamu, kalau Ternate mah tau kan yah? Kebangetan gak mah!

Kak Fahri adalah orang terjauh yang saya kenal kuliah di UPI, Bandung, sebenarnya banyak juga yang orang luar kuliah di sana, orang luar negeri yah bukan luar angkasa. Tapi, yang istimewa adalah, dia berasal dari salah banyak pulau terpencil di Indonesia. Juga, dia bukan dari Keturunan Kesultanan Gapi, hanya masyarakat biasa seperti saya.

"Iya sell.. Bisa kuliah juga bukan karena orang mampu.. Tapi dapat beasiswa.. Sama adek fahri juga dapat beasiswa tahfidz.." - Kak Fahri, masih melalui What's App -

Masya Allah, saat itu juga ada yang bergetar di dada, ternyata henpon di kantong yang bergetar *intermezo* :p

Ini, saya serius jadi kayak ditampar bolak-balik entah sama siapa, saya waktu itu lagi malas-malasnya. Dipertemukan dengan orang yang punya semangat luaaaaar biasa, membinasakan kemalasan. Walau baru dipertemukan dalam ruang obrolan.

Kayak lirik lagu Mocca di atas, kamu mesti lakuin apa yang kamu mau, katakan apa yang perlu. Kamu punya cita tinggi dan ingin memajukan daerahmu? Kamu mau kuliah untuk itu? Masih mikir kendala biaya?

Sekali lagi, kalau kamu BENAR-BENAR menginginkan itu, semesta bakal bantu atas perintah Sang Penguasa Alam.

Caranya?

Pernah naksir si dia kan? *ehem*

Untuk dapetin perhatiannya pasti kamu carper.

Nah, ke Allah juga gitu!!!

Ridho Allah itu mesti di jemput, dekati Dia, minta-mintalah yang banyak. Kamu kejar akhirat, dunia kejar kamu.

Jemput "Asam"-mu yang di gunung walau kamu cuma "Ikan" di laut. Bisalah, Kak fahri aja yang dari laut (Morotai) bisa ke gunung (Bandung).

Yah kan? Hehehe.

" Semuanya karena Allah.. Dan jutaan do'a2 dari orang tua dan saudara se aqidah hingga fahri bisa dapat beasiswa ini..."

Kak fahri menutup obrolan karena saat itu mau Ashar, lagi-lagi, semuanya tak luput dari...

Doa Orang Tua.

Jadi sekarang, saya mau makin banyak-banyak ngemis ke Ibu buat bantu utarakan doa. Meng-upik-abu-kan diri bagi Beliau, biar makin Bahagia dan Ridha. Kamu juga, kan?

Oh yah, Ibu saya sudah bulannya mau lahiran, tolong bantu doa yah! :) terimakasih.


Bandar Lampung,

6 Juli 2015

lagi deg-degan nunggu Badai lahir.

Saturday, 4 July 2015

Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, saya ini kuliah sambil main-main nah setelah lompat dari Manajemen Industri Katering (UPI) ke Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (Unila) -yang sama sekali gak ada hubungannya dengan (tekhnik) pembangunan- maka saya berlabuh ke LPGTK Puri Handayani, ini jadi yang terakhir untuk saat ini, mungkin lain kali saya nambah lagi. Ke Madrasah Rumah Tangga, misalnya, sama kamu :)

Alhamdulillah juga dari sebelum beres pun saya sudah dapat tawaran dari Abi Mukmin, Guru ngajinya Bayu. Masjid Darul Muslihin tempat Dek Bayu menimba ilmu agama memiliki dua Taman:

1. Taman Pendidikan Qur'an
2. Taman Kanak-Kanak/Paud

Karena istri Abi Mukmin hendak melahirkan saat itu bulan Oktober 2014 dan tenaga pengajar juga kurang maka tanpa tedeng aling-aling saya langsung ditanyai dan diminta ketersediaannya.

Saya pun meng-insha Allah-i.

Hah iyah, alasan saya memilih masuk LPGTK juga lucu, selucu dengan alasan saya masuk ke dua kampus sebelumnya. Selucu ekspresi photo kamu di profile what's app ...

1. MIK
Karena saya suka masak dan makan, sungguh kalau kamu jadi anak MIK mah tetep bisa bergaya bikin menu ala-ala Resto walau di Kostan.

2. IESP
Ini jurusan pilihan kedua saat SNMPTN 2011 (sekarang SBMPTN), maka tahun 2013 saya menaruhnya pada urutan pertama. Udah gitu doang.

3. TK/PAUD
Saya sudah bosan dengan berbagai intrik dan persoalan ekonomi negara, saya mau senang-senang kayak anak-anak. Kebetulan saya gak TK pas dulu. Jadi sekarang saja sekolah (guru) TK.

Dan Kehidupan (Guru) Anak TK itu...

Satu hal, MENYENANGKAN. Honornya saja sangat-sangat mencengangkan, untuk sebuah TK/PAUD swasta di kota saya bermukim, rata-rata honor gurunya bisalah untuk jajan empal gentong, rendang, soto koya, sate dan pecel tiap hari, dalam bentuk mie instan :')

Yah namanya juga honorer, tergantung jumlah murid dan kemampuan Yayasan.

Padahal (Guru) Anak TK itu...

Adalah pondasi awal pembentuk karakter anak. Selain orang tua di rumah, tentunya. Masa kini, hanya anak yang sudah bisa CaLisTung yang bisa diterima di Sekolah Dasar. Tentu saja, kewajiban guru TK-lah yang mesti mengajarknnya.

Kami juga punya tanggung jawab sosial untuk membentuk akhlakul karimah dan moral baik. Serta memerkenalkan norma-norma yang kadung terbudaya di masyarakat.

Bahkan tahu kah kamu?
Penalaran menerima pengetahuan pada anak usia TK/PAUD itu ada di kisaran 80 persen dan akan terus berkurang hingga hanya 20 persen saja saat beranjak dewasa. Ini bukan cuma tebak-tebakan dari saya, ini sudah diteliti.

Walau Bagaimanapun...

Tidak ada tuntutan yang berarti, toh sejauh yang saya tahu, para guru TK/PAUD ini mengajar bukan untuk uang, malah rata-rata kelebihan uang, --tapi saya sih belum. Kalau mau transfer boleh loh nanti dikasih nomer Rekening--. Melainkan hasrat, panggilan jiwa. Kalau mereka ingin uang, sudah barang tentu lebih menguntungkan jualan uduk, sama-sama cuma kerja pagi. Dan dagang uduk juga tidak punya beban sosial. Yang penting orang kenyang karena sudah sarapan.

Jadi...

Kalau kamu sudah gede, Dek. Coba sesekai inget dan kangen sama guru pertamamu itu. Jangan cuma sama gebetan doang kangennya.

Dikangenin itu sudah lebih dari cukup, gimana tidak? Ragamu di sana tapi hati dan fikiranmu di kami, istimewa sekali, kan?

Bandar Lampung,
4 Juli 2015

Heum, asyik-asyik saja jalani hidup.